Jumat, 13 September 2013

RAHASIA KESUKSESAN HALAQAH



Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan mAnhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga dengan mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.
Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).
Biasanya peserta halaqah dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustadz (guru), mas’ul (penanggung jawab). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqah untuk mencapai tujuan halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter da’i (takwinul syakhsiyah islamiyah wa da’iyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.
Halaqah sekarang ini – dan insya Allah di masa datang – menjadi alternatif sistem pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim berkepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyah). Hal ini dapat terlihat dari hasil pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim yang serius mengamalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqah yang terbentuk di berbagai kalangan.
Kini, fenomena halaqah menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah yang pesat tak bisa dilepaskan dari keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT, saat ini halaqah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin mengikuti halaqah tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.
Keberadaan halaqah sangat penting untuk keberadaan umat Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem pendidikan halaqah, maka di dalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak seiring dengan merebaknya sistem halaqah, maka umat Islam akan menjadi ‘sebenar-benarnya umat’. Bukan lagi sekedar bernama ‘umat Islam’ tapi esensinya jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini.
Merebaknya halaqah juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi (self development) para pesertanya. Halaqah yang berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu,  peserta belajar bukan hanya tentang nilai-nilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi, menyampaikan ide, belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses di dunia dan akhirat.
Halaqah Sukses (Muntijah) = Dinamis (dalam proses) + Produktif (dalam tujuan)

 
Bagaimana cara mewujudkan halaqah yang muntijah (sukses) ? Bagaimana agar halaqah dapat berjalan secara dinamis dan meningkat produktivitasnya? Bagaimana agar halaqah dapat berjalan dengan menggairahkan dan tidak terjebak dalam kejemuan? Sebab suasana jemu dapat berdampak pada tidak antusiasnya peserta dan murobbi (orang yang memimpin halaqah) untuk mengikuti halaqah. Ujung-ujungnya akan berdampak pada ketiadaan dinamisasi dan produktivitas halaqah. Hal ini tentu akan mengurangi makna dari keberadaan halaqah itu sendiri, yakni sebagai sarana pembentukan syakhsiyah Islamiyah (pribadi-pribadi muslim) yang tangguh.


*Dinamisasi adalah jalannya halaqoh berlangsung dengan menggairahkan dan tidak menjemukan. *Produktifitas adalah tujuan halaqoh tercapai.
Agar halaqah sukses perlu melakukan upaya sebagai berikut:
1.        Menghindari faktor-faktor yang dapat menjadi penghambat terciptanya halaqoh muntijah. Salah satunya factor keseriusan murobbi
·         Terjebak dengan rutinitas
·         Sibuk dengan aktivitas dakwah ’ammah (umum) yang lebih gegap gempita
·         Kesibukan dengan urusan duniawi
·         Terpesona dengan jumlah (kuantitas)
·         Merasa bahawa halaqah tidak ada masalah
·         Kurangnya motivasi dan peringatan dari jama’ah atau ikhwah di sekelilingnya
·         Terlena dengan nostalgia masa lalu
2.      Menghindari hal-hal yang memicu kejenuhan dalam halaqah. Sebab munculnya kejenuhan itu adalah sebagai berikut:
·         Suasana yang monoton
·         Ketiadaan keteladanan
·         Kurangnya upaya untuk saling memotivasi/mengingatkan
·         Konflik berpanjangan
·         Kurangnya keikhlasan
·         Maksiat
·         Kurangnya pemahaman
Kejenuhan dalam halaqah harus diminimalisir sekecil mungkin karena kejenuhan halaqah akan berdampak:
·         Peserta:kehadiran tidak rutin
·         Peserta:disiplin yang menurun
·         Peserta: keterlibatan yang minima
·         Peserta: ketidakpuasan yang meningkat
·         Peserta:Kemaksiatan yang muncul
·         Peserta:Konflik/permasalahan yang bertambah
·         Peserta: Keterlambatan pencapaian tujuan
·         Murobbi: enggan melakukan persiapan
·         Murobbi: penyampaian kurang berisi
·         Murobbi: lupa pada tujuan
3.      Melakukan variasi perubahan dalam halaqah. Langkah-langkah variasi perubahan tersebut seperti berikut:
·         Buat program kerja untuk periode tertentu
Program halaqah sebaiknya mencakup nama kegiatan, waktu pelaksanaan, sasaran kegiatan, dan pelaksanaaya. Ada dua jenis program halaqah yang perlu dibuat, yakni program internal dan eksternal. Program internal adalah program yang sasaran kegiatannya adalah mad’u halaqah sendiri. Misalnya, dauroh tarkiyah ( peningkatan kualitas ), mabit, rihlah, silaturahmi antar mad’u, dan lain-lain. Sedang program eksternal adalah program yang sasaran kegiatannya adalah masyarakat umum. Misalnya, dauroh rekruitmen , bakti social, tabligh, seminar, dan lain-lain.
Buatlah program halaqah bersama dengan mad’u agar mad’u merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Buat program halaqah untuk periode tertentu, misalnya 6 bulan atau 1 tahun. Jangan membuat program halaqah untuk periode yang terlalu lama ( misalnya 3-5 tahun ). Sebab nanti akan sulit menjaga konsistensinya. Jangan juga terlalu singkat (misalnya 1-2 bulan).
Jika karena sesuatu hal program terpaksa ditunda atau dibatalkan pelaksanaannya, Anda perlu menyepakati hal itu bersama dengan mad’u. Jangan Anda menunda atau membatalkan program halaqah secara sepihak, karena dapat membuat preseden buruk bagi mad’u bahwa Anda tak serius melaksanakan program.
Sebaiknya dalam acara halaqah ada agenda khusus yang rutin dijalankan untuk mempersiapkan dan memutaba’ah (mengevaluasi) pelaksanaan program halaqah. Hal ini untuk menjaga konsistensi pelaksanaan program yang telah dibuat.
·         Lakukan variasi agenda acara
Agenda acara halaqah yang rutin biasanya berupa iftitah (pembukaan), tilawah, taujih, diskusi, mutaba’ah (evaluasi), dan ikhtitam (penutup). Ubah agenda acara itu dengan merinci atau menambahkannya dengan agenda acara lain. Misalnya, menambahkan dengan agenda infaq, tadabbur, setoran hafalan ayat/hadits, kultum dari mad’u, ta’limat (pengumuman dan informasi), evaluasi yaumiyah (ibadah dan aktifitas harian), informasi aktual dari mad’u, evaluasi kedisiplinan dan lain-lain. Bisa juga dengan merubah susunan agenda acara. Misalnya, agenda infak yang biasanya dilakukan diakhir acara diubah menjadi sebelum taujih dari murobbi. Jika Anda ingin mendinamiskan halaqah, ubahlah agenda acara sesuai dengan kesepakatan Anda dan mad’u. Selama hal itu tetap sesuai dengan syar’I dan tetap sesuai dengan pencapaian sasaran halaqah.
·         Lakukan variasi metode belajar
Metode belajar yang sering digunakan pada halaqah adalah ceramah. Metode ini mudah dan praktis, serta tidak membutuhkan persiapan lama. Tapi metode ini juga potensial menimbulkan kejenuhan dan suasana monoton. Metode belajar lain yang bisa anda gunakan, seperti simulasi, permainan (game), bermain peran (role play), diskusi, bedah buku, seminar, dan lain-lain. Anda juga dapat membuatsendiri metode balajar lain. Yang penting metode belajar itu sesuai dengan syar’I dan menarik. Juga dapat melibatkan mad’u sesuai dengan sasaran materidan sesuai dengan waktu serta tempat.
Dengan menggunakan metode belajar yang variatif, kredibilitas anda akan dapat meningkat di mata mad’u (karena anda dianggap kreatif dan serba bisa). Mad’u juga lebih efektif memahami materi. Anda perlu memahami bahwa tidak semua mad’u bisa belajar efektif dengan metode belajar ceramah.
·         Lakukan variasi media belajar
Cara lain untuk mendinamiskan halaqah adalah dengan melakukan variasi media belajar. Media belajar dalam halaqah dapat bermacam-macam, seperti papan tulis, makalah, alat peraga, OHP (over Head Projektor), slide projector, video, dan lain-lain. Memang beberapa media belajar, seperti OHP dan video, membutuhkan persiapan dan dana untuk menggunakannya. Mungkin itulah sebabnya sebagian besar murobbi hanya menggunakan media belajar papan tulis dan makalah ( yang murah dan praktis) untuk menyampaikan materi di halaqah. Namun hal tersebut dapat diakali dengan menggunakan media belajar yang lain sesekali sebagai selingan. Kalau perlu, bekerjasama dengan mad’u untuk persiapan dan penyediaan dananya.
·         Ubah tempat pertemuan
Idealnya tempat halaqah berpindah-pindah dari satu rumah kerumah lain. Namun kenyataannya, seringkali murobbi menetapkannya hanya di satu tempat. Selain untuk menghindari suasana monoton, memindah-mindahkan tempat pertemuan juga bermanfaat untuk mengenal lebih jauh karakter mad’u. Jika halaqah dipindahkan dari rumah ke rumah, Anda juga dapat mengenal keluarga dan kondisi rumah mad’u sebagai bahan menilai karakter mad’u. Jika Anda karena alasan tertentu sulit memindah-mindahkan tempat halaqah, tetapkan tempat pertemuan di satu tempat. Tapi pindahkan tempat pada saat tertentu. Misalnya, tiga kali pertemuan di tempat yang telah ditetapkan, satu kali pertemuan digilir ke tempat lain.
·         Ubah waktu pertemuan
Cara lain agar halaqah tidak berjalan monoton adalah merubah waktu pertemuan. Sebaiknya, perubahan waktu halaqah dilakukan enam bulan sekali. Hal ini untuk menghindari kebosanan mad’u dengan jadwal halaqah lama. Memang, mungkin tidak semua mad’u bisa mengikuti jadwal halaqah yang baru. Mereka punya kesibukan masing-masing, sehingga sulit menyesuaikan diri dengan jadwal baru. Jika hal itu terjadi, Anda tidak perlu mengubah waktu halaqah secara permanent. Ubah sesekali saja sebagai selingan.
·         Berikan tugas yang memberikan kesempatan berkreasi
Untuk tugas biasa, berikan tugas secara global agar mad’u dapat berkreativitas dalam melaksanakannya. Misalnya, untuk tugas membuat seminar, berikan acuan tentang tema yang sebaiknya diangkat atau pembicara yang mestinya diundang. Sedang tentang pelaksanaan teknisnya biarkan mad’u yang merancangnya. Dengan memberi kesempatan mad’u berkreasi, ia akan lebih mempunyai rasa memiliki terhadap tugas tersebut, karena ia dapat menyumbangkan pikirannya sendiri. Selain itu, juga melatih kemandirian dan tanggung jawabnya. Anda jangan kuatir ia akan salah atau gagal. Jikapun gagal dalam melaksanakan tugasnya, ia akan belajar banyak dari kegagalan tersebut, sehingga akan lebih terampil melaksanakan tugas yang lain dimasa datang.
4. Meningkatkan peran murobbi. Peran Murabbi dalam meningkatkan produktivitas halaqah:
·         Sebagai motivator
·         Sebagai koordinator
·         Sebagai evaluator
Agar kreativitas menjadi kultur baru, maka Murabbi perlu melakukan :
·         Memberi motivasi terus menerus kepada peserta untuk meningkatkan kreativitas.
·         Melakukan kegiatan dalam halaqah yang dapat menambah keakraban dan keterbukaan. Seperti melakukan mabit dan rihlah dengan mad’u. Mabit adalah menginap bersama mad’u untuk menghidupkan malam dengan aktivitas ibadah dan zikir. Biasanya agenda acara mabit adalah taujih mabit, sholat tahajud, muhasabah, dan zikir (Al Ma’tsurot). Anda dapat saja menambahkan agenda mabit itu dengan agenda acara lain yang dianggap perlu. Sempatkan rihlah (rekreasi) bersama mad’u Anda. Dengan rekreasi, Anda dan mad’u dapat terbebas untuk sementara waktu dari pekerjaan rutin sehari-hari. Dapat menghilangkan kejenuhan pikiran dan jiwa serta mengembalikan semangat kerja.
·         Membuat suasana halaqah yang santai dan menyenangkan, tapi serius agar peserta berani menyampaikan ide-idenya.
·         Menghargai prakarsa dan kritik peserta serta tidak melulu melakukan kecaman atau celaan terhadap pendapat-pendapat mereka.

Sumber :
·         Buku “Rahasia Kesuksesan Halaqah (Usroh), Kiat Menikmati Perjalanan Halaqah, Menghilangkan Kejenuhan dan Meningkatkan Produktivitas Usroh” by Satria Hadi Lubis
·         http://ikh1keadilan.multiply.com/journal/item/12?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem




Tidak ada komentar:

Posting Komentar