Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan
dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah
Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk
menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam.
Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka
mengkaji Islam dengan mAnhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan,
halaqah disebut juga dengan mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah
atau sebutan lainnya.
Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan
mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran
mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal
jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima
dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik
melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh,
maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).
Biasanya peserta halaqah dipimpin dan dibimbing oleh seorang
murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustadz
(guru), mas’ul (penanggung jawab). Murobbi bekerjasama dengan peserta
halaqah untuk mencapai tujuan halaqah, yaitu terbentuknya muslim yang Islami
dan berkarakter da’i (takwinul syakhsiyah islamiyah wa da’iyah). Dalam
mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin
dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara
rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah agar tetap produktif
untuk mencapai tujuannya.
Halaqah sekarang ini – dan insya Allah di masa datang –
menjadi alternatif sistem pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk
muslim berkepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyah). Hal ini dapat
terlihat dari hasil pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim
yang serius mengamalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin banyak seiring
semakin bertambahnya jumlah halaqah yang terbentuk di berbagai kalangan.
Kini, fenomena halaqah menjadi umum dijumpai di lingkungan
kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang
berbeda-beda. Penyebaran halaqah yang pesat tak bisa dilepaskan dari
keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertaqwa kepada
Allah SWT, saat ini halaqah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang
masif dan merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial
atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin
mengikuti halaqah tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau
tidak. Halaqah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah
Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.
Keberadaan halaqah sangat penting untuk keberadaan umat
Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem
pendidikan halaqah, maka di dalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang
senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak
seiring dengan merebaknya sistem halaqah, maka umat Islam akan menjadi
‘sebenar-benarnya umat’. Bukan lagi sekedar bernama ‘umat Islam’ tapi esensinya
jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini.
Merebaknya halaqah juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi
(self development) para pesertanya. Halaqah yang berlangsung secara
rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat
kebersamaan (ukhuwwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu,
peserta belajar bukan hanya tentang nilai-nilai Islam, tapi juga belajar
untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap
aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi, menyampaikan ide, belajar
mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting
bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses
di dunia dan akhirat.
|
*Dinamisasi adalah jalannya halaqoh berlangsung
dengan menggairahkan dan tidak menjemukan. *Produktifitas adalah tujuan halaqoh
tercapai.
Agar halaqah sukses perlu
melakukan upaya sebagai berikut:
1.
Menghindari faktor-faktor yang
dapat menjadi penghambat terciptanya halaqoh muntijah. Salah satunya factor
keseriusan murobbi
·
Terjebak dengan rutinitas
·
Sibuk dengan aktivitas
dakwah ’ammah (umum) yang lebih gegap gempita
·
Kesibukan dengan urusan
duniawi
·
Terpesona dengan jumlah
(kuantitas)
·
Merasa bahawa halaqah tidak
ada masalah
·
Kurangnya motivasi dan
peringatan dari jama’ah atau ikhwah di sekelilingnya
·
Terlena dengan nostalgia
masa lalu
2.
Menghindari hal-hal yang memicu kejenuhan
dalam halaqah. Sebab munculnya kejenuhan itu adalah sebagai berikut:
·
Suasana yang monoton
·
Ketiadaan keteladanan
·
Kurangnya upaya untuk
saling memotivasi/mengingatkan
·
Konflik berpanjangan
·
Kurangnya keikhlasan
·
Maksiat
·
Kurangnya pemahaman
Kejenuhan dalam halaqah harus diminimalisir sekecil
mungkin karena kejenuhan halaqah akan berdampak:
·
Peserta:kehadiran tidak
rutin
·
Peserta:disiplin yang
menurun
·
Peserta: keterlibatan yang
minima
·
Peserta: ketidakpuasan yang
meningkat
·
Peserta:Kemaksiatan yang
muncul
·
Peserta:Konflik/permasalahan
yang bertambah
·
Peserta: Keterlambatan
pencapaian tujuan
·
Murobbi: enggan melakukan
persiapan
·
Murobbi: penyampaian kurang
berisi
·
Murobbi: lupa pada tujuan
3.
Melakukan variasi perubahan dalam
halaqah. Langkah-langkah variasi perubahan tersebut seperti berikut:
·
Buat program kerja untuk periode tertentu
Program halaqah
sebaiknya mencakup nama kegiatan, waktu pelaksanaan, sasaran kegiatan, dan
pelaksanaaya. Ada dua jenis program halaqah yang perlu dibuat, yakni program
internal dan eksternal. Program internal adalah program yang sasaran
kegiatannya adalah mad’u halaqah sendiri. Misalnya, dauroh tarkiyah (
peningkatan kualitas ), mabit, rihlah, silaturahmi antar mad’u, dan lain-lain.
Sedang program eksternal adalah program yang sasaran kegiatannya adalah
masyarakat umum. Misalnya, dauroh rekruitmen , bakti social, tabligh, seminar,
dan lain-lain.
Buatlah program
halaqah bersama dengan mad’u agar mad’u merasa bertanggung jawab untuk
melaksanakannya. Buat program halaqah untuk periode tertentu, misalnya 6 bulan
atau 1 tahun. Jangan membuat program halaqah untuk periode yang terlalu lama (
misalnya 3-5 tahun ). Sebab nanti akan sulit menjaga konsistensinya. Jangan
juga terlalu singkat (misalnya 1-2 bulan).
Jika karena sesuatu
hal program terpaksa ditunda atau dibatalkan pelaksanaannya, Anda perlu
menyepakati hal itu bersama dengan mad’u. Jangan Anda menunda atau membatalkan
program halaqah secara sepihak, karena dapat membuat preseden buruk bagi mad’u
bahwa Anda tak serius melaksanakan program.
Sebaiknya dalam
acara halaqah ada agenda khusus yang rutin dijalankan untuk mempersiapkan dan
memutaba’ah (mengevaluasi) pelaksanaan program halaqah. Hal ini untuk menjaga
konsistensi pelaksanaan program yang telah dibuat.
·
Lakukan variasi agenda acara
Agenda acara halaqah
yang rutin biasanya berupa iftitah (pembukaan), tilawah, taujih, diskusi,
mutaba’ah (evaluasi), dan ikhtitam (penutup). Ubah agenda acara itu dengan
merinci atau menambahkannya dengan agenda acara lain. Misalnya, menambahkan
dengan agenda infaq, tadabbur, setoran hafalan ayat/hadits, kultum dari mad’u,
ta’limat (pengumuman dan informasi), evaluasi yaumiyah (ibadah dan aktifitas
harian), informasi aktual dari mad’u, evaluasi kedisiplinan dan lain-lain. Bisa
juga dengan merubah susunan agenda acara. Misalnya, agenda infak yang biasanya
dilakukan diakhir acara diubah menjadi sebelum taujih dari murobbi. Jika Anda
ingin mendinamiskan halaqah, ubahlah agenda acara sesuai dengan kesepakatan
Anda dan mad’u. Selama hal itu tetap sesuai dengan syar’I dan tetap sesuai
dengan pencapaian sasaran halaqah.
·
Lakukan variasi metode belajar
Metode belajar yang
sering digunakan pada halaqah adalah ceramah. Metode ini mudah dan praktis,
serta tidak membutuhkan persiapan lama. Tapi metode ini juga potensial
menimbulkan kejenuhan dan suasana monoton. Metode belajar lain yang bisa anda
gunakan, seperti simulasi, permainan (game), bermain peran (role play), diskusi,
bedah buku, seminar, dan lain-lain. Anda juga dapat membuatsendiri metode
balajar lain. Yang penting metode belajar itu sesuai dengan syar’I dan menarik.
Juga dapat melibatkan mad’u sesuai dengan sasaran materidan sesuai dengan waktu
serta tempat.
Dengan menggunakan
metode belajar yang variatif, kredibilitas anda akan dapat meningkat di mata
mad’u (karena anda dianggap kreatif dan serba bisa). Mad’u juga lebih efektif
memahami materi. Anda perlu memahami bahwa tidak semua mad’u bisa belajar efektif
dengan metode belajar ceramah.
·
Lakukan variasi media belajar
Cara lain untuk
mendinamiskan halaqah adalah dengan melakukan variasi media belajar. Media
belajar dalam halaqah dapat bermacam-macam, seperti papan tulis, makalah, alat
peraga, OHP (over Head Projektor), slide projector, video, dan lain-lain.
Memang beberapa media belajar, seperti OHP dan video, membutuhkan persiapan dan
dana untuk menggunakannya. Mungkin itulah sebabnya sebagian besar murobbi hanya
menggunakan media belajar papan tulis dan makalah ( yang murah dan praktis)
untuk menyampaikan materi di halaqah. Namun hal tersebut dapat diakali dengan
menggunakan media belajar yang lain sesekali sebagai selingan. Kalau perlu,
bekerjasama dengan mad’u untuk persiapan dan penyediaan dananya.
·
Ubah tempat pertemuan
Idealnya tempat
halaqah berpindah-pindah dari satu rumah kerumah lain. Namun kenyataannya,
seringkali murobbi menetapkannya hanya di satu tempat. Selain untuk menghindari
suasana monoton, memindah-mindahkan tempat pertemuan juga bermanfaat untuk
mengenal lebih jauh karakter mad’u. Jika halaqah dipindahkan dari rumah ke
rumah, Anda juga dapat mengenal keluarga dan kondisi rumah mad’u sebagai bahan
menilai karakter mad’u. Jika Anda karena alasan tertentu sulit
memindah-mindahkan tempat halaqah, tetapkan tempat pertemuan di satu tempat.
Tapi pindahkan tempat pada saat tertentu. Misalnya, tiga kali pertemuan di
tempat yang telah ditetapkan, satu kali pertemuan digilir ke tempat lain.
·
Ubah waktu pertemuan
Cara lain agar
halaqah tidak berjalan monoton adalah merubah waktu pertemuan. Sebaiknya,
perubahan waktu halaqah dilakukan enam bulan sekali. Hal ini untuk menghindari
kebosanan mad’u dengan jadwal halaqah lama. Memang, mungkin tidak semua mad’u
bisa mengikuti jadwal halaqah yang baru. Mereka punya kesibukan masing-masing,
sehingga sulit menyesuaikan diri dengan jadwal baru. Jika hal itu terjadi, Anda
tidak perlu mengubah waktu halaqah secara permanent. Ubah sesekali saja sebagai
selingan.
·
Berikan tugas yang memberikan kesempatan berkreasi
Untuk tugas biasa,
berikan tugas secara global agar mad’u dapat berkreativitas dalam
melaksanakannya. Misalnya, untuk tugas membuat seminar, berikan acuan tentang
tema yang sebaiknya diangkat atau pembicara yang mestinya diundang. Sedang
tentang pelaksanaan teknisnya biarkan mad’u yang merancangnya. Dengan memberi
kesempatan mad’u berkreasi, ia akan lebih mempunyai rasa memiliki terhadap
tugas tersebut, karena ia dapat menyumbangkan pikirannya sendiri. Selain itu,
juga melatih kemandirian dan tanggung jawabnya. Anda jangan kuatir ia akan
salah atau gagal. Jikapun gagal dalam melaksanakan tugasnya, ia akan belajar
banyak dari kegagalan tersebut, sehingga akan lebih terampil melaksanakan tugas
yang lain dimasa datang.
4. Meningkatkan peran murobbi. Peran Murabbi dalam
meningkatkan produktivitas halaqah:
·
Sebagai motivator
·
Sebagai koordinator
·
Sebagai evaluator
Agar kreativitas menjadi kultur
baru, maka Murabbi perlu melakukan :
·
Memberi motivasi terus
menerus kepada peserta untuk meningkatkan kreativitas.
·
Melakukan kegiatan dalam
halaqah yang dapat menambah keakraban dan keterbukaan. Seperti melakukan mabit
dan rihlah dengan mad’u. Mabit adalah menginap bersama mad’u untuk menghidupkan
malam dengan aktivitas ibadah dan zikir. Biasanya agenda acara mabit adalah
taujih mabit, sholat tahajud, muhasabah, dan zikir (Al Ma’tsurot). Anda dapat
saja menambahkan agenda mabit itu dengan agenda acara lain yang dianggap perlu.
Sempatkan rihlah (rekreasi) bersama mad’u Anda. Dengan rekreasi, Anda dan mad’u
dapat terbebas untuk sementara waktu dari pekerjaan rutin sehari-hari. Dapat
menghilangkan kejenuhan pikiran dan jiwa serta mengembalikan semangat kerja.
·
Membuat suasana halaqah
yang santai dan menyenangkan, tapi serius agar peserta berani menyampaikan
ide-idenya.
·
Menghargai prakarsa dan kritik
peserta serta tidak melulu melakukan kecaman atau celaan terhadap
pendapat-pendapat mereka.
Sumber :
·
Buku “Rahasia Kesuksesan
Halaqah (Usroh), Kiat Menikmati Perjalanan Halaqah, Menghilangkan Kejenuhan dan
Meningkatkan Produktivitas Usroh” by Satria Hadi Lubis
·
http://ikh1keadilan.multiply.com/journal/item/12?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Tidak ada komentar:
Posting Komentar