I.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bagi dunia ilmu
pengetahuan, koleksi herbarium merupakan obyek studi utama yang tak ternilai
harganya. Tidak mengherankan bila gedung-gedung untuk menyimpan koleksi itu
merupakan bangunan yang megah dengan tokoh-tokoh kenamaan. Sesuai dengan ruang
yang tersedia dalam gedung herbarium, koleksi herbarium baik kering maupun
basah dipisah-pisah dan ditata di ruang yang tersedia untuk masing-masing
takson menurut klasifikasi yang dibuat oleh para ahli dalam lembaga tersebut.
Terdapat ruang-ruang khusus untuk Cryptogamae, Phanerogamae, Algae, Fungi,
Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae. Selanjutnya, koleksi
disusun lagi berdasarkan takson yang lebih rendah dan ditata menurut abjad
(Tjitrosoepomo, 1993).
Herbarium merupakan
suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain berfungsi sebagai
acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah Herbarium adalah
pengawetan specimen tumbuhan dengan berbagai cara.untuk kepentingan koleksi dan
ilmu pengetahuan.
Koleksi specimen
herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula
yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan
koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di
Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang
Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium
ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai
wilayah di seluruh Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia.
Spesimen yang
tersimpan di gedung ini ada diantaranya sudah berumur ratusan tahun, terbukti
pada label tempel tertulis tahun pembuatan 1823 yang berarti specimen tersebut
diabuat tahun 1923 dan dilengkapi pula dengan lokasi pengambilan spesimen.
Lokasi tempat pengambilan spesimen tersebut kemungkinan sekarang telah beralih
fungsi menjadi fungsi lain seperti perkebunan, pemukiman, perkantoran atau
bentuk lain.
Dalam
herbarium-herbarium tertentu, spesimen herbarium yang disimpan dimasukkan dalam
map/sampul dengan warna yang berbeda-beda, yang masing-masing menunjukkan
wilayah geografis asal spesimen-spesimen tersebut. Dengan demikian berarti
untuk masing-masing spesimen yang tersimpan dalam herbarium mengandung informasi
mengenai distribusi geografisnya (Tjitrosoepomo, 1993).
Koleksi
herbarium basah disimpan dalam ruang tersendiri yang terpisah dari ruang untuk
herbarium kering. Penataan dalam ruang diatur seperti yang dilakukan terhadap
koleksi herbarium kering, yaitu dipisah-pisah menurut takson kategori besar,
selanjutnya dalam masing-masing takson kategori di bawahnya disusun menurut
abjad (Tjitrosoepomo, 1993).
Bila herbarium
basah itu merupakan bagian dari suatu spesimen, bagian lainnya diproses sebagai
herbarium kering (misalnya bunga, buah, atau organ lain yang terlepas dan
dianggap perlu untuk tetap dipertahankan dalam koleksi dalam bentuk herbarium
basah), maka nomor dan informasi-informasi yang harus dicantumkan dalam tabel
selain yang langsung menyangkut sifat-sifat bahan yang diawetkan secara basah
itu sendiri (nama kolektor, data taksonomi, dan lain-lain) harus disesuaikan
dengan yang dimuat dalam label pada herbarium kering (Tjitrosoepomo, 1993).
B. Tujuan
Berdasarkan
latar belakang yang ada tersebut maka didapat tujuan dari pelaksanaan Kuliah
Kerja Lapangan Taksonomi Tumbuhan ini, yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui
tata cara pembuatan herbarium baik yang kering maupun yang basah.
2. Mengetahui tata cara penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium
di Herbarium Bogoriense.
3. Menambah
perbendaharaan pengetahuan melalui pengamatan secara langsung baik.
.
II.
HERBARIUM (TINJAUAN PUSTAKA)
A. DEFINISI DAN FUNGSI HERBARIUM
Herbarium
berasal dari kata “Horcus dan Botanicus”, artinya kebun botani yang dikeringkan.
Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah suatu koleksi spesimen tumbuhan yang
umumnya telah dikeringkan, agar mudah di transportasi di bandingkan basah dan
biasanya disusun berdasarkan klasifikasi.. Herbarium juga biasanya disebut
sebagai gedung, institusi atau lembaga yang menyimpan berbagai jenis tumbuhan.
Herbarium
merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain
berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah
herbarium adalah pengawetan spesimen tumbuhan dengan berbagai cara untuk
kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan.
Material
herbarium sangat penting artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan
penelitian dan identifikasi, hal ini dimungkinkan karena pendokumentasian
tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lama.
Pusat Penelitian Biologi membawahi satu bagian tata usaha dan empat
Bidang yaitu Bidang Botani (Herbarium Bogoriense, Treub dsb.), Zoologi (Museum
Zoologicum Bogoriense), Mikrobiologi dan Bidang Sarana dan Pengelolaan Koleksi.
Fungsi Pusat Penelitian Biologi berkaitan dengan herbarium secara umum antara lain:
1.
Sebagai pusat koleksi herbarium
tumbuhan sebagai data otentik kegiatan penelitian di bidang botani, ekologi,
taksonomi tumbuhan dan etnobotani.
2.
Sebagai pelayanan
identifikasi tumbuhan kepada pihak yang memerlukan.
3.
Sebagai pelatihan untuk mengenal tumbuhan dan
memberikan saran mengenai herbarium kepada instansi lain dan perguruan tinggi.
4.
Sebagai
pusat referensi, yang merupakan sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi
para ahli taksonomi, ekologi, petugas yang menangani jenis tumbuhan langka,
pecinta alam, para petugas yang bergerak dalam konservasi alam.
5.
Sebagai
lembaga dokumentasi, koleksi yang mempunyai nilai sejarah, seperti tipe dari
taksa baru, contoh penemuan baru, tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan
lain-lain.
6.
Sebagai
pusat penyimpanan data, ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari alkaloid,
ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat kanker dan
sebagainya.
7.
Sebagai material peraga
pelajaran botani.
8.
Sebagai material
pertukaran antar herbarium diseluruh dunia.
9.
Sebagai bukti tentang keberadaan dan keanekaragaman
suatu jenis tumbuhan di suatu pulau atau wilayah atau suatu tempat.
10.
Sebagai spesimen acuan untuk
publikasi spesies baru.
11. Sebagai bahan penelitian di bidang
botani/taksonomi tumbuhan penamaan atau cukup hanya di kompilasi, dan ada
karakter-karakter tumbuhan di Indonesia maupun di negara lain.
B.
INSTITUSI
HERBARIUM INTERNASIONAL
Beberapa institusi-institusi herbarium internasional ialah International Association
for Plant Taxonomy in
the Netherlands dan National Herbarium Netherland, dahulu bernama Rijksherbarium
Leiden. Selain itu Indonesia juga memiliki institusi herbarium atau institusi
ilmu pengetahuan yang telah diakui sebagai lembaga penelitian yang bertaraf
internasional antara lain seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun
Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894) serta Herbarium wanariset di Kalimantan (1989)
dimana merupakan salah satu Herbarium di Indonesia yang secara internasiaonal
telah terdaftar dalam “Index Herbariorum” di New York, Amerika Serikat.
C. KOLEKSI
PUSLIT BIOLOGI
Gedung
Herbarium Bogoriense merupakan herbarium yang memiliki koleksi terlengkap dan
tertua di Asia Tenggara, atau nomor 3 terbesar di seluruh dunia. Gedung
tersebut saat ini berusia sekitar 164 tahun dan memiliki arti penting dalam
dunia ilmu pengetahuan, baik dalam maupun luar negeri karena mempresentasikan kekayaan
dan keanekaragaman hayati Indonesia baik yang berupa flora, khususnya flora
tropika Indonesia. Gedung Herbarium Bogoriense LIPI menempati lahan seluas 4,8
hektar, dengan total luas bangunan 11.331 M2, terdiri dari 4 blok yaitu
laboratorium penelitian mikrobiologi, laboratorium penelitian botani, gedung
Herbarium Bogoriense dan fasilitas administrasi. Layout serta design dengan
standar laboratorium internasional ini dikerjakan oleh pihak jepang, dibantu
oleh para peneliti PUSLIP biologi LIPI sebagai pengguna gedung.
Selain
memiliki berbagai kelengkapan fasilitas berupa peralatan laboratorium yang
cukup lengkap, Puslit Biologi juga memiliki sejumlah koleksi ilmiah, antara
lain sebagai berikut :
1. Terdapat sekitar 2.000.000 contoh
specimen (tumbuhan) yang tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga
tumbuhan tropis kawasan yang disebut kawasan Malesia. Kawasan biogeografi
tersebut melingkupi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura,
Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste yang terdiri dari herbarium (contoh
tanaman atau bagian tanaman) kering, herbarium basah, buah kering, biji-bijian,
tanaman paku-pakuan, lumut, serta spesimen bukti penelitian ekologi tumbuhan.
2.
Terdapat sekitar 2.700.000 spesimen hewan atau binatang sebagai koleksi
ilmiah zoologi yang terdiri atas 25.500 spesimen mamalia, 30.500 spesimen
burung, 2.280.000 spesimen serangga, 11.000 spesimen amfibi, 8.000 spesimen
reptil, 140.000 spesimen ikan, 180.000 spesimen moluska dan sekitar 25.000
spesimen invertebrata lain.
3.
Terdapat sekitar 1.500 isolat, koleksi Biakan Bidang Mikrobiologi yang
terdiri dari 350 isolat yeast (khamir), 350 isolat bakteri and 800 isolat jamur
(kapang).
III.
METODELOGI
PENELITIAN
A.
Waktu dan Tempat
Hari, tanggal :
Kamis, 25 April 2013
Lokasi :
LIPI Cibinong (Herbarium
Bogoriensis)
B. Alat dan
Bahan
Alat
1.
Buku lapang
2.
Alat tulis
Bahan
1.
spesimen yang diamati
C. Cara Kerja
Ø LIPI Cibinong
Mencatat
informasi yang diberikan oleh pemandu di LIPI Cibinong mengenai pembuatan
herbarium basah maupun kering.
Ø Herbarium Bogoriensis
Mencatat
informasi yang diberikan oleh pemandu di Herbarium Bogoriensis mengenai
pemanfaatan tumbuhan di Indonesia.
Ø Proses Pembuatan Herbarium Kering
1. Pengambilan
spesimen, saat pengambilan spesimen perlu memperhatikan
beberapa hal antara lain pengambilan spesimen dibagian-bagiannya selengkap
mungkin. Apabila tanaman berukutan kecil maka mengoleksi secara menyeluruh
namun apabila tanaman berupa pohon-pohon yang tinggi, liana dan epifit dengan
mengumpulkan apa saja yang dimiliki oleh tanaman tersebut yang melakukan
seleksi tanpa merusak tanaman tersebut. Pada pengoleksian idealnya harus berisi
semua bagian tanaman seperti akar, batang, daun, buah, biji dan
sebagainya.Pengambilan tanaman dari lapangan dikumpulkan kedalam plastik
sementara atau masukkan diantara kertas koran.
2. Pemberian nama pada tunbuhan dengan epitet gantung
dan diberi nama spesimen, nama kolektor dan tanggal pengambilan dengan
menggunakan pensil agar tidak mudah luntur. Kemudian pada buku koleksi dibuat
catatan yang datanya tidak terbawa pada spesimen yang diambil yaitu tempat
tumbuh, tinggi tempat, keadaan lingkungan, warna, bau, bagian-bagian dalam
tumbuhan (besar populasi), dan lain-lain.
3. Pemberian
alkohol 70 % atau 90 %. Setelah
spesimen diperoleh, menambahkan dengan memasukan dalam alkohol sebelum memasuki
ruangan pengeplakan. Hal ini bertujuan untuk untuk mengawetkan beberapa
spesimen yang tergolong mudah rusak.
4. Memasukkan
ke dalam kertas koran baru ( mengganti
kertas koran). Setelah
memasuki ruang pengeplakan spesimen, koran- koran yang digunakan untuk
mengeplak spesimen yang tidak mudah rusak diganti sedangkan untuk spesimen yang
mudah rusak setelah pemberian alkohol kemudian meletakkan ke dalam koran baru
untuk menyerap alkohol.
5. Menata spesimen pada sasak. Pada tahapan
ini menata spesimen pada sasak dengan urutan : sasak, seng gelombang, kertas
koran, spesimen, kertas koran, seng gelombang, dan selanjutnya hingga 5 – 8
tumpukan kemudian mrngikatkan dengan menggunakan tali hingga kuat. Hal ini
beetujuan untuk mengepress spesimen agar mendapatkan panas yang merata sehingga
spesimen tidak mudah rusak.
6. Pengeringan,
bertujuan
untuk mengeringkan spesimen agar tidak membusuk dan tahan lama untuk digunakan
pada proses selanjutnya selain itu juga bertujuan untuk menata spesimen agar
rapi sehingga memudahkan langkah yang akan ditempuh selanjutnya. Pengeringan
dapat melalui proses dengan memasukkannya pada oven maupun dengan menjemur di
bawah sinar matahari hasilnya sama namun waktu penjemuran lebih lama. Untuk
pengeringan yang dengan menggunakan oven maka membutuhkan suhu sekitar 60 0C
dengan lama waktu pengeringan tergantung dari ketebalan spesimen yang akan
dikeringkan . Pada proses ini perlu memperhatikan banyak hal diantaranya
beberapa jenis spesimen seperti tumbuhan rendah, buah,jamur besar tidak dioven
sedangkan jamur payung dioven. Untuk jamur jika jamur itu parasit maka ia cukup
dikering anginkan bersama inangnya sedangkan jika jamurnya saprofit maka
perlakuan yang diberikan untuk mengeringkan adalah cukup dengan dikering
anginkan bersama substratnya. Pengeringan menggunakan oven tidak memiliki
ketentuan harus menggunakan oven khusus karena semua oven dapat digunakan
bahkan salah satu pegawai LIPI ada yang menggunakan oven yang dibuat sendiri
dari bohlam dan hal itupun sangat mungkin untuk dilakukan karena prinsip
mengoven adalah untuk mengeringkan saja.
7. Tahap
pembunuhan kuman penyakit dan hama.
8. Penataan
spesimen, dalam
penataan spesimen harus memperhatikan beberapa hal misalnya dalam hal penataan
daun dimana dalam penataan daun harus diperlihatkan permukaan atas dan
permukaan bawah daun.
9.
Identifikasi. Tahap identifikasi
bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri suatu tanaman. Alat dan bahan yang
digunakan adalah herbarium, buku pedoman identifikasi, pembanding spesimen yang
sudah ada. Langkah yang dilakukan dalam proses ini adalah mengamati secara jeli
karakter dan habitus herbarium kemudian membandingkan spesimen yang sudah ada.
10.Mounting, merupakan
proses penempelan spesimen pada kertas plak. Dalam proses ini ada beberapa hal
yang harus diperhatikan diantaranya menempel yaitu pada kertas yang standar
umumnya acid free. Dalam proses penempelan, apabila daun banyak atau batang
besar maka melakukan pengikatan dengan cara menjahitnya, ada juga penempelan
dengan teknologi terbaru yang sedang diterapkan di LIPI saat ini yaitu dengan
menggunakan isolatip khusus yang hanya bisa menempel dengan menggunakan alat
pemanas yang bentuknya seperti solder. Cara ini memudahkan proses remounting
karena isolatip tidak menempel langsung pada spesimen, selain itu isolatip
khusus ini lebih tahan lama daripada isolatip biasa.
11.Proses penyimpanan
dalam freezer – 20 0C. Pada
proses ini terjadi di dalam ruang aklimatisasi selama 5 hari agar serangga
mati. Untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh serangga
maupun jamur yang merupakan musuh herbarium utama di daerah tropis maka diberi
poison sebagai sublimat akan tetapi hal ini ternyata berbahaya bagi manusia oleh
karenanya diganti dengan fumigasi yaitu diasapkan dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan asap akan terhirup manusia dan
berdampak buruk lagi bagi kesehatan, oleh karenanya ditemukan cara terbaru yang
sedang digunakan di LIPI saat ini yaitu dengan freezing. Hal ini ternyata
efektif dalam mencegah adanya serangga akan tetapi jika menggunakan metode ini
harus lebih sering diadakan pemeriksaan dikarenakan kelembaban udara di negara
cukup tinggi.
12.Penyimpanan
sebagai herbarium kering. Spesimen
yang telah lengkap memasukkan dalam amplop/ folder dengan warna dan ukuran yang
berbeda-beda. Jika melakukan pengoleksian spesimen yang pertama kali ditemukan,
harus menggunakan map yang bergaris merah, namun jika tidak, map yang digunakan
adalah map yang tidak bergaris (putih polos). Penyimpanan dilakukan ditempat
yang bersuhu 18⁰C
dan kelembapan 50 %. Penyimpanan herbarium pada almari besi dipisah-pisahkan
antara jamur, alga, lichen, paku, gymnospermae, monokotil dan dikotil setelah
itu masih diurutkan lagi berdasarkan alphabet dari famili, genus hingga ke
spesies dan lokasi ditemukannya semua diurutkan secara alphabet. Selain yang
dapat diurutkan berdasarkan abjad dari nama kelas, genus dan spesies ada juga
yang tidak dapat diurutkan berdasarkan abjad karena merupakan spesimen yang
undefinied. Untuk herbarium yang berukuran besar penyimpanan diurutkan secara
berseri. Penyimpanan herbarium yang demikian ini dilakukan agar memudahkan
dalam pencarian datanya. Musuh dari spesimen yang dibuat herbarium di daerah
tropis adalah jamur dan serangga oleh karena itu harus memeriksa secara rutin.
Di LIPI cabang botani ini, untuk herbarium setiap takson memiliki beberapa
teknisi tersendiri dan frekuensi pemeriksaan yang kadang berlainan misal seminggu
sekali atau dua kali. Apabila pada saat pemeriksaan didapati herbarium alas
kertasnya sudah hampir rusak karena termakan usia maka pertanda harus segera
dilakukan remounting (penempelan ulang).
Ø Herbarium basah
Menagwetkan spesimen dengan metode
herbarium basah ditujukan terhadap spesimen yang memiliki tingkat ketebalan
yang tinggi dan tidak memungkinkan diawetkan dengan cara koleksi kering.
Koleksi basah sebenarnya bertujuan agar bentuknya tetap atau tidak berubah
sehingga dapat menunjukkan perawakannya pada saat masih hidup atau belum
diawetkan.
Hal yang terpenting dalam proses ini
untuk herbarium basah adalah spesimen terendam alkohol 70 % atau 90 % agar
tidak diserang jamur. Apabila alkohol yang digunakan untuk merendam spesimen
yaitu alkohol 70 % atau alkohol 90 % surut dan sudah keruh maka diganti dengan
alkohol yang baru. Botol yang digunakan sebagai wadah diisi dengan peratin agar
kedap udara. Jika membandingkan dengan herbarium kering maka pembuatan
herbarium basah lebih mudah. Namun demikian herbarium basah memiliki kelemahan
yaitu warna spesimen akan hilang dan juga harus dilakukannya penggantian
alkohol selama beberapa tahun sekali (tergantung sifat spesimen) jika warna
alkohol telah berubah menjadi hitam.
Larutan umum yang dipakai dalam herbarium
basah adalah alkohol 95% sebanyak 3500 ml (70 %) dan aquades 1500 ml (30%)
sehingga total larutan keseluruhan adalah 5000 ml. sedangkan untuk larutan
blangko terdiri dari alkohol 95% sebanyak 3100 ml (62%) , aquades 1050 ml (33)
, dan gliserin 250 ml (5%). Spesimen yang telah mengalami prises pengawetan
kemudian memasukkan kedalam toples kaca. Ukuran toples menyesuaikan dengan
besar kecilnya spesimen yang diawetkan. Pada spesimen tertentu, kandungan
alkohol akan berubah, sehingga harus melakukan penggantian alkohol secara
rutin. Koleksi basah yang disimpan di Herbarium Bogoriense selalu terdapat
koleksi keringnya. Namun untuk koleksi kering belum tentu disimpan koleksi
basahnya.
Koleksi Karpologi dan
Fosil
Koleksi yang terdapat di Herbarium
Bogorinese di Cibinong ini juga meliputi buah, biji, kayu dalam bentuk kering
(koleksi karpologi ) dan bahkan fosil tumbuhan.Koleksi karpologi berwujud
kering, tanpa pengawet, dapat menggunakan sinar matahari atau dengan proses
penggarangan. Koleksi-koleksi ini juga memerlukan pengecekan yang berkala
apalagi untuk koleksi buah. Hal ini menyebabkan buah banyak mengandung selulosa
sehingga sangat rentan dengan serangga. Untuk koleksi buah, biji, dan kayu
tidak melalui proses sasak. Koleksi fosil tumbuhan yang ada, sebagian
teridentifikasi dan sebagian ada juga yang belum teridentifikasi. Fosil
tumbuhan berupa batu yang merupakan substrat dimana tumbuhan pernah tumbuh
diatas tanah membentuk cetakan-cetakan kemudian cetakan- cetakan mengeras
menjadi batu.
IV.
HERBARIUM BOGOR
A. SEJARAH SINGKAT DAN PROFIL UMUM
Herbarium
Bogoriense: Kedua kata ini merupakan kata yang akan selalu diingat oleh para
ahli taksonomi dunia dan semua orang yang belajar tentang flora. Herbarium
Bogoriense berdiri sejak 1834 merupakan sejarah panjang dan saksi bisu
perjalanan para ahli taksonomi dunia yang melanglang dunia termasuk Indonesia
(Nusantara). Sederetan para ahli taksonomi dunia yang sempat singgah di Tanah
Air ini seperti Rumphius, Van Stenis dan masih banyak lagi ahli taksonomi lainnya
yang menjelajah Indonesia dan membawa contoh tumbuhan yang kemudian dikoleksi
dan disimpan di Herbarium Bogoriensi yang dikenal dengan BO (kode
Internasional).
Herbarium
Bogoriense merupakan salah satu pusat referensi Ilmiah untuk tumbuhan dan
terbesar ke-2 di dunia. Lebih dari 2 juta koleksi specimen tumbuhan yang
tersimpan dengan standart Internasional dan setiap tahunnya dikunjungi kurang
lebih 1500 peneliti, mahasiswa dari dalam ataupun luar negeri yang memanfaatkan
referensi ini dengan tujuan bermacam macam. Specimen ini terdiri koleksi kering
dan basah (yang disimpan dalam alkohol), karpologi dan fosil. Kurang lebih
14.000 koleksi type specimen yang dimiliki kini sudah 80 persen
terdigitalisasi, sedangkan specimen yang lainnya masih dlm proses pengerjaan.
Merupakan hal yang tidak mudah dalam merawat asset dunia dengan kondisi
Indonesia yg mempunyai kelembaban yang tinggi, sehingga perlu kehati hatian dan
pengamatan khusus bulanan untuk chek keadaan koleksi specimen. Dengan semakin
berkembangnya ilmu yang semakin pesat maka koleksi specimen di Herbarium
Bogoriense juga ditunjang dengan keberadaan laboratorium yang cukup lengkap.
B. PROGRAM –
PROGRAM
Program utama
difokuskan pada konservasi dan kurasi spesimen, pengembangan sumber daya
manusia dan sistem informasi manajemen. Perubahan dalam berbagai aspek koleksi
yang disajikan yaitu taksonomis dari herbarium yang berbeda di seluruh dunia.
Program rehabilitasi juga dijalankan di herbarium Bogoriense yang didukung oleh
Bank Dunia pada September 2000.
C. HAL-HAL YANG
MENARIK
Dari segi botani, semua herbarium yang ada di LIPI
cibinong memiliki nilai ilmiah mun ada beberapa hal yang dapat berkesan saat
melihatnya, yaitu :
Setiap
tahapan proses herbarium memiliki ruangan tersendiri
Kertas untuk
menempel daun pada herbarium diimpor dari luar
Lemari
koleksi ada yang berasal dari jepang (pemberian Negara jepang)
Herbarium
bogor bekerja sama dengan Negara lainnya
Memiliki
banyak koleksi herbarium basah
D. TANYA JAWAB
Berikut merupakan hasil tanya jawab pada saat melihat
tahapan-tahapan pembuatan serta koleksi herbarium :
P
: petugas
M:
mahasiswa
M : berapa lama
waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan?
P : tergantung
dari spesimen yang di keringkan, jika spesimennya tidak mengandung air yang tinggi maka 2 atau 3 hari sudah cukup, namun jika
spesimennya mengandung banyak air maka
memerlukan waktu yang lebih lama.
M : untuk apa kayu yang terdapat didalam ikatan
herbarium ?
P : kayu itu kita sebut dengan sasak, fungsinya adalah
untuk pengepresan.
M : jadi, pengepresan langsung dilakukan pada saat
proses pengeringan?
P : iya, metode yang dilakukan memang seperti itu.
Jadi sebelum di masukan kedalam oven terlebih dahulu diatur seperti yang
terihat sehingga setelah kering spesimennya juga rata.
M : selain menggunakan oven, apakah disini juga
menggunakan alat yang lainnya untuk proses pengeringan?
P : tidak, semuanya menggunakan oven tapi ada dua
macam oven yaitu oven listrik dan oven arang. Oven arang kita gunakan hanya
jika oven listrik sudah tidak cukup.
M : apakah penggunaan oven akan mempengaruhi specimen
yang dikeringkan?
P : iya tapi yang berpengaruh hanya waktu atau lama
nya proses pengeringan saja bukan kualitas dari herbariumnya.
M : apaka bagus jika pengeringan dan pengepresan
dilakukan dengan menggunakan tumpukan buku-buku yang tebal ?
P : tidak. buku yang tebal akan membuat herbarium
lembab sehingga kemungkinan besar akan ada jamur-jamur yang menempel pada
specimen tersebut.
M : lalu, bagaimana cara yang bagus namun tetap
sederhana yag dapat dilakukan mahasiswa dirumah mengingat minimnya peralatan
yang ada dirumah ?
P : kalian dapat menggunakan sinar matahari, tentunya
dengan intensitas cahaya yang bagus. Pengepresannya dapat dilakukan dengan buku
jika siang harinya sudah dijemur dibawah matahari.
M : apakah ada cara yang dapat dilakukan agar
herbarium yang dibuat tidak berubah warnanya?
P : herbarium tidak berubah jika kita tidak
menggunakan alcohol.
M : bukankah alcohol digunakan agar herbarium kita
tidak ditumbuhi jamur ? lalu, jika kita tidak menggunakan alcohol apakah
herbarium yang dibuat tidak akan rusak?
P : Alcohol ini berfungsi untuk mengawetkan specimen
sebelum dikeringkan. Misalnya kita mengambil sampel yang asalnya jauh sehingga
memerlukan waktu bebebrapa hari sebelum masuk ke proses pengeringan. Namun,
jika kalian menggunakan metode langsung, yakni setelah mengambil tanaman dan
langsung dilakukan pengeringan maka tidak apa-apa tidak menggunakan alcohol.
M : bagaimana jika ternyata setelah diperiksa, pada
herbarium kita terdapat jamur ?
P : tinggal dibersihkan, setelah bersih maka dapat
ditutup kembali.
M : apaka ada perlakuan khusus untuk tanaman yang
bertipe herbacius ?
P : kalau disini tidak dilakukan perlakuan khusus,
tetapi memang pengeringan yang dilakukan sedikit lebih lama karena specimen
harus benar-benar dalam keadaan kering.
M : berapa banyak koleksi herbarium yang ada di sini ?
dan berasal dari mana saja spesimennya ?
P : kurang
lebih ada sekitar 2000 spesimen. Asal tanaman bermacam-macam ada yang dari
sumatera, papu dan jawa.
M : bagaimaa manajemen pengarsipannya mengingat begitu
banyaknya specimen yang ada di herbarium ini ?
P : pengarsipan berdasarkan genus, jadi setiap jajaran lemari merupakan
genus yang sama.
M : apa saja jenis koleksi yang ada disini ?
P : koleksi disini ada dua jenis, yaitu herbarium
kering seperti yang terlihat disini dan herbarium basah.
M : apa beda antara herbarium basah dengan herbarium
kering ?
P : herbarium kering dapat dilakukan untuk
daun-daunan. Namun, untuk buah dan bunga dapat dilakukan dengan herbarium
basah.
V.
PENUTUP
Kesimpulan
• Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia
tumbuh-tumbuhan.
• Terdapat dua cara pengawetan tumbuhan dalam herbarium yaitu,
herbarium kering dan herbarium basah.
• Salah satu fungsi herbarium adalah sebagai bahan penelitian
dalam bidang botani.
• Pembuatan herbarium memiliki beberapa tahapan seperti:
pengambilan sampel, proses pengeringan/ pengawetan, dan proses
identifikasi/labeling.
DAFTAR PUSTAKA
O.
P.Sharma.1993. Plant Taxonomy. New
Delhi tata: McGraw-Hill Publishing
Company Limited
Steenis, C.G.G.J.Van. 2003. Flora. Cet. 9. Jakarta: PT Pradnya Paramitha.
Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Umum Dasar-Dasar Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Triharso, 1996.
Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: UGM Press.
Van Steenis, C. G. G. J. 1972. Flora Untuk Sekolah Di Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Ardiawan, 2010. Diakses dari
http://ardiawan-1990.blogspot.com/2010/10/ koleksi- membuat-herbarium.html.
Pada Tanggal 13 Mei 2013. Pukul 15.00 WIB.
http://www.krcibodas.lipi.go.id. Diakses Pada tanggal
10 Juni 2013. Pukul 15.35 WIB.
Ir. A. Muh. Rafii, MP. 2011. Herbarium Sebagai Acuan Penanaman Pohon
(http://www.badikhut.com/3e734a2ef4ccb7706ab716d77fba7ac8-artikel-herbarium-sebagai-acuan-penanaman-pohon.html
) diakses pada 09 Juni 2013. Pukul 16.30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar