Sabtu, 14 September 2013

Laporan Herbarium



I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Bagi dunia ilmu pengetahuan, koleksi herbarium merupakan obyek studi utama yang tak ternilai harganya. Tidak mengherankan bila gedung-gedung untuk menyimpan koleksi itu merupakan bangunan yang megah dengan tokoh-tokoh kenamaan. Sesuai dengan ruang yang tersedia dalam gedung herbarium, koleksi herbarium baik kering maupun basah dipisah-pisah dan ditata di ruang yang tersedia untuk masing-masing takson menurut klasifikasi yang dibuat oleh para ahli dalam lembaga tersebut. Terdapat ruang-ruang khusus untuk Cryptogamae, Phanerogamae, Algae, Fungi, Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae dan Angiospermae. Selanjutnya, koleksi disusun lagi berdasarkan takson yang lebih rendah dan ditata menurut abjad (Tjitrosoepomo, 1993).
Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah Herbarium adalah pengawetan specimen tumbuhan dengan berbagai cara.untuk kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan.     
Koleksi specimen herbarium biasanya disimpan pada suatu tempat yang diberi perlakuan khusus pula yang dikenal dengan laboratorium herbarium. Para ahli-ahli botani menyimpan koleksi herbarium mereka pada pusat-pusat herbarium di masing-masing Negara. Di Indonesia pusat herbarium terbesar terdapat di Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI berada di wilayah Cibinong Jawa Barat. Laboratorium ini menyimpan lebih dari 2 juta koleksi herbarium yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan dari berbagai Negara di dunia.
Spesimen yang tersimpan di gedung ini ada diantaranya sudah berumur ratusan tahun, terbukti pada label tempel tertulis tahun pembuatan 1823 yang berarti specimen tersebut diabuat tahun 1923 dan dilengkapi pula dengan lokasi pengambilan spesimen. Lokasi tempat pengambilan spesimen tersebut kemungkinan sekarang telah beralih fungsi menjadi fungsi lain seperti perkebunan, pemukiman, perkantoran atau bentuk lain.
Dalam herbarium-herbarium tertentu, spesimen herbarium yang disimpan dimasukkan dalam map/sampul dengan warna yang berbeda-beda, yang masing-masing menunjukkan wilayah geografis asal spesimen-spesimen tersebut. Dengan demikian berarti untuk masing-masing spesimen yang tersimpan dalam herbarium mengandung informasi mengenai distribusi geografisnya (Tjitrosoepomo, 1993).
Koleksi herbarium basah disimpan dalam ruang tersendiri yang terpisah dari ruang untuk herbarium kering. Penataan dalam ruang diatur seperti yang dilakukan terhadap koleksi herbarium kering, yaitu dipisah-pisah menurut takson kategori besar, selanjutnya dalam masing-masing takson kategori di bawahnya disusun menurut abjad (Tjitrosoepomo, 1993).
Bila herbarium basah itu merupakan bagian dari suatu spesimen, bagian lainnya diproses sebagai herbarium kering (misalnya bunga, buah, atau organ lain yang terlepas dan dianggap perlu untuk tetap dipertahankan dalam koleksi dalam bentuk herbarium basah), maka nomor dan informasi-informasi yang harus dicantumkan dalam tabel selain yang langsung menyangkut sifat-sifat bahan yang diawetkan secara basah itu sendiri (nama kolektor, data taksonomi, dan lain-lain) harus disesuaikan dengan yang dimuat dalam label pada herbarium kering (Tjitrosoepomo, 1993).

B.     Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang ada tersebut maka didapat tujuan dari pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan Taksonomi Tumbuhan ini, yaitu sebagai berikut:
1.   Mengetahui tata cara pembuatan herbarium baik yang kering maupun yang basah.
2.   Mengetahui tata cara penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Herbarium Bogoriense.
3.   Menambah perbendaharaan pengetahuan melalui pengamatan secara langsung baik.
.
  
II.      HERBARIUM (TINJAUAN PUSTAKA)

A.      DEFINISI DAN FUNGSI HERBARIUM

Herbarium berasal dari kata “Horcus dan Botanicus”, artinya kebun botani yang dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium  adalah suatu koleksi spesimen tumbuhan yang umumnya telah dikeringkan, agar mudah di transportasi di bandingkan basah dan biasanya disusun berdasarkan klasifikasi.. Herbarium juga biasanya disebut sebagai gedung, institusi atau lembaga yang menyimpan berbagai jenis tumbuhan.
Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan selain berfungsi sebagai acuan identifikasi untuk mengenal suatu jenis pohon. Istilah herbarium adalah pengawetan spesimen tumbuhan dengan berbagai cara untuk kepentingan koleksi dan ilmu pengetahuan.
Material herbarium sangat penting artinya sebagai kelengkapan koleksi untuk kepentingan penelitian dan identifikasi, hal ini dimungkinkan karena pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lama.
Pusat Penelitian Biologi membawahi satu bagian tata usaha dan empat Bidang yaitu Bidang Botani (Herbarium Bogoriense, Treub dsb.), Zoologi (Museum Zoologicum Bogoriense), Mikrobiologi dan Bidang Sarana dan Pengelolaan Koleksi. Fungsi Pusat Penelitian Biologi berkaitan dengan herbarium secara umum antara lain:
1.      Sebagai pusat koleksi herbarium tumbuhan sebagai data otentik kegiatan penelitian di bidang botani, ekologi, taksonomi tumbuhan dan etnobotani.
2.      Sebagai pelayanan identifikasi tumbuhan kepada pihak yang memerlukan.
3.      Sebagai pelatihan untuk mengenal tumbuhan dan memberikan saran mengenai herbarium kepada instansi lain dan perguruan tinggi.
4.      Sebagai pusat referensi, yang merupakan sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi, petugas yang menangani jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang bergerak dalam konservasi alam.
5.      Sebagai lembaga dokumentasi, koleksi yang mempunyai nilai sejarah, seperti tipe dari taksa baru, contoh penemuan baru, tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan lain-lain.
6.      Sebagai pusat penyimpanan data, ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari alkaloid, ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat kanker dan sebagainya.
7.      Sebagai material peraga pelajaran botani.
8.      Sebagai  material pertukaran antar herbarium diseluruh dunia.
9.      Sebagai bukti tentang keberadaan dan keanekaragaman suatu jenis tumbuhan di suatu pulau atau wilayah atau suatu tempat.
10.  Sebagai spesimen acuan untuk publikasi spesies baru.
11.  Sebagai bahan penelitian di bidang botani/taksonomi tumbuhan penamaan atau cukup hanya di kompilasi, dan ada karakter-karakter tumbuhan di Indonesia maupun di negara lain.

B.     INSTITUSI HERBARIUM INTERNASIONAL
Beberapa institusi-institusi herbarium internasional ialah International Association for Plant Taxonomy in the Netherlands dan National Herbarium Netherland, dahulu bernama Rijksherbarium Leiden. Selain itu Indonesia juga memiliki institusi herbarium atau institusi ilmu pengetahuan yang telah diakui sebagai lembaga penelitian yang bertaraf internasional antara lain seperti  Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844),  Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894) serta Herbarium wanariset di Kalimantan (1989) dimana merupakan salah satu Herbarium di Indonesia yang secara internasiaonal telah terdaftar dalam “Index Herbariorum” di New York, Amerika Serikat.

C.       KOLEKSI PUSLIT BIOLOGI
Gedung Herbarium Bogoriense merupakan herbarium yang memiliki koleksi terlengkap dan tertua di Asia Tenggara, atau nomor 3 terbesar di seluruh dunia. Gedung tersebut saat ini berusia sekitar 164 tahun dan memiliki arti penting dalam dunia ilmu pengetahuan, baik dalam maupun luar negeri karena mempresentasikan kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia baik yang berupa flora, khususnya flora tropika Indonesia. Gedung Herbarium Bogoriense LIPI menempati lahan seluas 4,8 hektar, dengan total luas bangunan 11.331 M2, terdiri dari 4 blok yaitu laboratorium penelitian mikrobiologi, laboratorium penelitian botani, gedung Herbarium Bogoriense dan fasilitas administrasi. Layout serta design dengan standar laboratorium internasional ini dikerjakan oleh pihak jepang, dibantu oleh para peneliti PUSLIP biologi LIPI sebagai pengguna gedung.
Selain memiliki berbagai kelengkapan fasilitas berupa peralatan laboratorium yang cukup lengkap, Puslit Biologi juga memiliki sejumlah koleksi ilmiah, antara lain sebagai berikut :
1.      Terdapat sekitar 2.000.000 contoh specimen (tumbuhan) yang tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga tumbuhan tropis kawasan yang disebut kawasan Malesia. Kawasan biogeografi tersebut melingkupi Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste yang terdiri dari herbarium (contoh tanaman atau bagian tanaman) kering, herbarium basah, buah kering, biji-bijian, tanaman paku-pakuan, lumut, serta spesimen bukti penelitian ekologi tumbuhan.
2.      Terdapat sekitar 2.700.000 spesimen hewan atau binatang sebagai koleksi ilmiah zoologi yang terdiri atas 25.500 spesimen mamalia, 30.500 spesimen burung, 2.280.000 spesimen serangga, 11.000 spesimen amfibi, 8.000 spesimen reptil, 140.000 spesimen ikan, 180.000 spesimen moluska dan sekitar 25.000 spesimen invertebrata lain.
3.      Terdapat sekitar 1.500 isolat, koleksi Biakan Bidang Mikrobiologi yang terdiri dari 350 isolat yeast (khamir), 350 isolat bakteri and 800 isolat jamur (kapang).


III.              METODELOGI PENELITIAN

A.    Waktu dan Tempat
Hari, tanggal         : Kamis, 25 April 2013
Lokasi                   : LIPI Cibinong (Herbarium Bogoriensis)

B. Alat dan Bahan
Alat
1. Buku lapang
2. Alat tulis

Bahan
1. spesimen yang diamati

C. Cara Kerja
Ø  LIPI Cibinong
Mencatat informasi yang diberikan oleh pemandu di LIPI Cibinong mengenai pembuatan herbarium basah maupun kering.

Ø     Herbarium Bogoriensis
Mencatat informasi yang diberikan oleh pemandu di Herbarium Bogoriensis mengenai pemanfaatan tumbuhan di Indonesia.

Ø     Proses Pembuatan Herbarium Kering
1. Pengambilan spesimen, saat pengambilan spesimen perlu memperhatikan beberapa hal antara lain pengambilan spesimen dibagian-bagiannya selengkap mungkin. Apabila tanaman berukutan kecil maka mengoleksi secara menyeluruh namun apabila tanaman berupa pohon-pohon yang tinggi, liana dan epifit dengan mengumpulkan apa saja yang dimiliki oleh tanaman tersebut yang melakukan seleksi tanpa merusak tanaman tersebut. Pada pengoleksian idealnya harus berisi semua bagian tanaman seperti akar, batang, daun, buah, biji dan sebagainya.Pengambilan tanaman dari lapangan dikumpulkan kedalam plastik sementara atau masukkan diantara kertas koran.
2.   Pemberian nama pada tunbuhan dengan epitet gantung dan diberi nama spesimen, nama kolektor dan tanggal pengambilan dengan menggunakan pensil agar tidak mudah luntur. Kemudian pada buku koleksi dibuat catatan yang datanya tidak terbawa pada spesimen yang diambil yaitu tempat tumbuh, tinggi tempat, keadaan lingkungan, warna, bau, bagian-bagian dalam tumbuhan (besar populasi), dan lain-lain.
3.   Pemberian alkohol 70 % atau 90 %. Setelah spesimen diperoleh, menambahkan dengan memasukan dalam alkohol sebelum memasuki ruangan pengeplakan. Hal ini bertujuan untuk untuk mengawetkan beberapa spesimen yang tergolong mudah rusak.
4.  Memasukkan ke dalam kertas koran baru ( mengganti kertas koran). Setelah memasuki ruang pengeplakan spesimen, koran- koran yang digunakan untuk mengeplak spesimen yang tidak mudah rusak diganti sedangkan untuk spesimen yang mudah rusak setelah pemberian alkohol kemudian meletakkan ke dalam koran baru untuk menyerap alkohol.
5.  Menata spesimen pada sasak. Pada tahapan ini menata spesimen pada sasak dengan urutan : sasak, seng gelombang, kertas koran, spesimen, kertas koran, seng gelombang, dan selanjutnya hingga 5 – 8 tumpukan kemudian mrngikatkan dengan menggunakan tali hingga kuat. Hal ini beetujuan untuk mengepress spesimen agar mendapatkan panas yang merata sehingga spesimen tidak mudah rusak.
6.   Pengeringan, bertujuan untuk mengeringkan spesimen agar tidak membusuk dan tahan lama untuk digunakan pada proses selanjutnya selain itu juga bertujuan untuk menata spesimen agar rapi sehingga memudahkan langkah yang akan ditempuh selanjutnya. Pengeringan dapat melalui proses dengan memasukkannya pada oven maupun dengan menjemur di bawah sinar matahari hasilnya sama namun waktu penjemuran lebih lama. Untuk pengeringan yang dengan menggunakan oven maka membutuhkan suhu sekitar 60 0C dengan lama waktu pengeringan tergantung dari ketebalan spesimen yang akan dikeringkan . Pada proses ini perlu memperhatikan banyak hal diantaranya beberapa jenis spesimen seperti tumbuhan rendah, buah,jamur besar tidak dioven sedangkan jamur payung dioven. Untuk jamur jika jamur itu parasit maka ia cukup dikering anginkan bersama inangnya sedangkan jika jamurnya saprofit maka perlakuan yang diberikan untuk mengeringkan adalah cukup dengan dikering anginkan bersama substratnya. Pengeringan menggunakan oven tidak memiliki ketentuan harus menggunakan oven khusus karena semua oven dapat digunakan bahkan salah satu pegawai LIPI ada yang menggunakan oven yang dibuat sendiri dari bohlam dan hal itupun sangat mungkin untuk dilakukan karena prinsip mengoven adalah untuk mengeringkan saja.
7.   Tahap pembunuhan kuman penyakit dan hama.
8.   Penataan spesimen, dalam penataan spesimen harus memperhatikan beberapa hal misalnya dalam hal penataan daun dimana dalam penataan daun harus diperlihatkan permukaan atas dan permukaan bawah daun.
9. Identifikasi. Tahap identifikasi bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri suatu tanaman. Alat dan bahan yang digunakan adalah herbarium, buku pedoman identifikasi, pembanding spesimen yang sudah ada. Langkah yang dilakukan dalam proses ini adalah mengamati secara jeli karakter dan habitus herbarium kemudian membandingkan spesimen yang sudah ada.
10.Mounting, merupakan proses penempelan spesimen pada kertas plak. Dalam proses ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya menempel yaitu pada kertas yang standar umumnya acid free. Dalam proses penempelan, apabila daun banyak atau batang besar maka melakukan pengikatan dengan cara menjahitnya, ada juga penempelan dengan teknologi terbaru yang sedang diterapkan di LIPI saat ini yaitu dengan menggunakan isolatip khusus yang hanya bisa menempel dengan menggunakan alat pemanas yang bentuknya seperti solder. Cara ini memudahkan proses remounting karena isolatip tidak menempel langsung pada spesimen, selain itu isolatip khusus ini lebih tahan lama daripada isolatip biasa.
11.Proses penyimpanan dalam freezer – 20 0C. Pada proses ini terjadi di dalam ruang aklimatisasi selama 5 hari agar serangga mati. Untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh serangga maupun jamur yang merupakan musuh herbarium utama di daerah tropis maka diberi poison sebagai sublimat akan tetapi hal ini ternyata berbahaya bagi manusia oleh karenanya diganti dengan fumigasi yaitu diasapkan dalam jangka waktu tertentu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan asap akan terhirup manusia dan berdampak buruk lagi bagi kesehatan, oleh karenanya ditemukan cara terbaru yang sedang digunakan di LIPI saat ini yaitu dengan freezing. Hal ini ternyata efektif dalam mencegah adanya serangga akan tetapi jika menggunakan metode ini harus lebih sering diadakan pemeriksaan dikarenakan kelembaban udara di negara cukup tinggi.
12.Penyimpanan sebagai herbarium kering. Spesimen yang telah lengkap memasukkan dalam amplop/ folder dengan warna dan ukuran yang berbeda-beda. Jika melakukan pengoleksian spesimen yang pertama kali ditemukan, harus menggunakan map yang bergaris merah, namun jika tidak, map yang digunakan adalah map yang tidak bergaris (putih polos). Penyimpanan dilakukan ditempat yang bersuhu 18C dan kelembapan 50 %. Penyimpanan herbarium pada almari besi dipisah-pisahkan antara jamur, alga, lichen, paku, gymnospermae, monokotil dan dikotil setelah itu masih diurutkan lagi berdasarkan alphabet dari famili, genus hingga ke spesies dan lokasi ditemukannya semua diurutkan secara alphabet. Selain yang dapat diurutkan berdasarkan abjad dari nama kelas, genus dan spesies ada juga yang tidak dapat diurutkan berdasarkan abjad karena merupakan spesimen yang undefinied. Untuk herbarium yang berukuran besar penyimpanan diurutkan secara berseri. Penyimpanan herbarium yang demikian ini dilakukan agar memudahkan dalam pencarian datanya. Musuh dari spesimen yang dibuat herbarium di daerah tropis adalah jamur dan serangga oleh karena itu harus memeriksa secara rutin. Di LIPI cabang botani ini, untuk herbarium setiap takson memiliki beberapa teknisi tersendiri dan frekuensi pemeriksaan yang kadang berlainan misal seminggu sekali atau dua kali. Apabila pada saat pemeriksaan didapati herbarium alas kertasnya sudah hampir rusak karena termakan usia maka pertanda harus segera dilakukan remounting (penempelan ulang).

Ø  Herbarium basah
Menagwetkan spesimen dengan metode herbarium basah ditujukan terhadap spesimen yang memiliki tingkat ketebalan yang tinggi dan tidak memungkinkan diawetkan dengan cara koleksi kering. Koleksi basah sebenarnya bertujuan agar bentuknya tetap atau tidak berubah sehingga dapat menunjukkan perawakannya pada saat masih hidup atau belum diawetkan.
Hal yang terpenting dalam proses ini untuk herbarium basah adalah spesimen terendam alkohol 70 % atau 90 % agar tidak diserang jamur. Apabila alkohol yang digunakan untuk merendam spesimen yaitu alkohol 70 % atau alkohol 90 % surut dan sudah keruh maka diganti dengan alkohol yang baru. Botol yang digunakan sebagai wadah diisi dengan peratin agar kedap udara. Jika membandingkan dengan herbarium kering maka pembuatan herbarium basah lebih mudah. Namun demikian herbarium basah memiliki kelemahan yaitu warna spesimen akan hilang dan juga harus dilakukannya penggantian alkohol selama beberapa tahun sekali (tergantung sifat spesimen) jika warna alkohol telah berubah menjadi hitam.
Larutan umum yang dipakai dalam herbarium basah adalah alkohol 95% sebanyak 3500 ml (70 %) dan aquades 1500 ml (30%) sehingga total larutan keseluruhan adalah 5000 ml. sedangkan untuk larutan blangko terdiri dari alkohol 95% sebanyak 3100 ml (62%) , aquades 1050 ml (33) , dan gliserin 250 ml (5%). Spesimen yang telah mengalami prises pengawetan kemudian memasukkan kedalam toples kaca. Ukuran toples menyesuaikan dengan besar kecilnya spesimen yang diawetkan. Pada spesimen tertentu, kandungan alkohol akan berubah, sehingga harus melakukan penggantian alkohol secara rutin. Koleksi basah yang disimpan di Herbarium Bogoriense selalu terdapat koleksi keringnya. Namun untuk koleksi kering belum tentu disimpan koleksi basahnya.
Koleksi Karpologi dan Fosil
Koleksi yang terdapat di Herbarium Bogorinese di Cibinong ini juga meliputi buah, biji, kayu dalam bentuk kering (koleksi karpologi ) dan bahkan fosil tumbuhan.Koleksi karpologi berwujud kering, tanpa pengawet, dapat menggunakan sinar matahari atau dengan proses penggarangan. Koleksi-koleksi ini juga memerlukan pengecekan yang berkala apalagi untuk koleksi buah. Hal ini menyebabkan buah banyak mengandung selulosa sehingga sangat rentan dengan serangga. Untuk koleksi buah, biji, dan kayu tidak melalui proses sasak. Koleksi fosil tumbuhan yang ada, sebagian teridentifikasi dan sebagian ada juga yang belum teridentifikasi. Fosil tumbuhan berupa batu yang merupakan substrat dimana tumbuhan pernah tumbuh diatas tanah membentuk cetakan-cetakan kemudian cetakan- cetakan mengeras menjadi batu.








IV.              HERBARIUM BOGOR

A.  SEJARAH SINGKAT  DAN PROFIL UMUM
Herbarium Bogoriense: Kedua kata ini merupakan kata yang akan selalu diingat oleh para ahli taksonomi dunia dan semua orang yang belajar tentang flora. Herbarium Bogoriense berdiri sejak 1834 merupakan sejarah panjang dan saksi bisu perjalanan para ahli taksonomi dunia yang melanglang dunia termasuk Indonesia (Nusantara). Sederetan para ahli taksonomi dunia yang sempat singgah di Tanah Air ini seperti Rumphius, Van Stenis dan masih banyak lagi ahli taksonomi lainnya yang menjelajah Indonesia dan membawa contoh tumbuhan yang kemudian dikoleksi dan disimpan di Herbarium Bogoriensi yang dikenal dengan BO (kode Internasional).
Herbarium Bogoriense merupakan salah satu pusat referensi Ilmiah untuk tumbuhan dan terbesar ke-2 di dunia. Lebih dari 2 juta koleksi specimen tumbuhan yang tersimpan dengan standart Internasional dan setiap tahunnya dikunjungi kurang lebih 1500 peneliti, mahasiswa dari dalam ataupun luar negeri yang memanfaatkan referensi ini dengan tujuan bermacam macam. Specimen ini terdiri koleksi kering dan basah (yang disimpan dalam alkohol), karpologi dan fosil. Kurang lebih 14.000 koleksi type specimen yang dimiliki kini sudah 80 persen terdigitalisasi, sedangkan specimen yang lainnya masih dlm proses pengerjaan. Merupakan hal yang tidak mudah dalam merawat asset dunia dengan kondisi Indonesia yg mempunyai kelembaban yang tinggi, sehingga perlu kehati hatian dan pengamatan khusus bulanan untuk chek keadaan koleksi specimen. Dengan semakin berkembangnya ilmu yang semakin pesat maka koleksi specimen di Herbarium Bogoriense juga ditunjang dengan keberadaan laboratorium yang cukup lengkap.

B.  PROGRAM – PROGRAM
Program utama difokuskan pada konservasi dan kurasi spesimen, pengembangan sumber daya manusia dan sistem informasi manajemen. Perubahan dalam berbagai aspek koleksi yang disajikan yaitu taksonomis dari herbarium yang berbeda di seluruh dunia. Program rehabilitasi juga dijalankan di herbarium Bogoriense yang didukung oleh Bank Dunia pada September 2000.

C.  HAL-HAL YANG MENARIK
Dari segi botani, semua herbarium yang ada di LIPI cibinong memiliki nilai ilmiah mun ada beberapa hal yang dapat berkesan saat melihatnya, yaitu :
   Setiap tahapan proses herbarium memiliki ruangan tersendiri
   Kertas untuk menempel daun pada herbarium diimpor dari luar
   Lemari koleksi ada yang berasal dari jepang (pemberian Negara jepang)
   Herbarium bogor bekerja sama dengan Negara lainnya
   Memiliki banyak koleksi herbarium basah

D.  TANYA JAWAB
Berikut merupakan hasil tanya jawab pada saat melihat tahapan-tahapan pembuatan serta koleksi herbarium :
P : petugas
M: mahasiswa
M :  berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan?
P :  tergantung dari spesimen yang di keringkan, jika spesimennya tidak mengandung air yang tinggi   maka 2 atau 3 hari sudah cukup, namun jika spesimennya mengandung banyak air  maka memerlukan waktu yang lebih lama.
M : untuk apa kayu yang terdapat didalam ikatan herbarium ?
P : kayu itu kita sebut dengan sasak, fungsinya adalah untuk pengepresan.
M : jadi, pengepresan langsung dilakukan pada saat proses pengeringan?
P : iya, metode yang dilakukan memang seperti itu. Jadi sebelum di masukan kedalam oven terlebih dahulu diatur seperti yang terihat sehingga setelah kering spesimennya juga rata.
M : selain menggunakan oven, apakah disini juga menggunakan alat yang lainnya untuk proses pengeringan?
P : tidak, semuanya menggunakan oven tapi ada dua macam oven yaitu oven listrik dan oven arang. Oven arang kita gunakan hanya jika oven listrik sudah tidak cukup.
M : apakah penggunaan oven akan mempengaruhi specimen yang dikeringkan?
P : iya tapi yang berpengaruh hanya waktu atau lama nya proses pengeringan saja bukan kualitas dari herbariumnya.
M : apaka bagus jika pengeringan dan pengepresan dilakukan dengan menggunakan tumpukan buku-buku yang tebal ?
P : tidak. buku yang tebal akan membuat herbarium lembab sehingga kemungkinan besar akan ada jamur-jamur yang menempel pada specimen tersebut.
M : lalu, bagaimana cara yang bagus namun tetap sederhana yag dapat dilakukan mahasiswa dirumah mengingat minimnya peralatan yang ada dirumah ?
P : kalian dapat menggunakan sinar matahari, tentunya dengan intensitas cahaya yang bagus. Pengepresannya dapat dilakukan dengan buku jika siang harinya sudah dijemur dibawah matahari.
M : apakah ada cara yang dapat dilakukan agar herbarium yang dibuat tidak berubah warnanya?
P : herbarium tidak berubah jika kita tidak menggunakan alcohol.
M : bukankah alcohol digunakan agar herbarium kita tidak ditumbuhi jamur ? lalu, jika kita tidak menggunakan alcohol apakah herbarium yang dibuat tidak akan rusak?
P : Alcohol ini berfungsi untuk mengawetkan specimen sebelum dikeringkan. Misalnya kita mengambil sampel yang asalnya jauh sehingga memerlukan waktu bebebrapa hari sebelum masuk ke proses pengeringan. Namun, jika kalian menggunakan metode langsung, yakni setelah mengambil tanaman dan langsung dilakukan pengeringan maka tidak apa-apa tidak menggunakan alcohol.
M : bagaimana jika ternyata setelah diperiksa, pada herbarium kita terdapat jamur ?
P : tinggal dibersihkan, setelah bersih maka dapat ditutup kembali.
M : apaka ada perlakuan khusus untuk tanaman yang bertipe herbacius ?
P : kalau disini tidak dilakukan perlakuan khusus, tetapi memang pengeringan yang dilakukan sedikit lebih lama karena specimen harus benar-benar dalam keadaan kering.
M : berapa banyak koleksi herbarium yang ada di sini ? dan berasal dari mana saja spesimennya ?
P  : kurang lebih ada sekitar 2000 spesimen. Asal tanaman bermacam-macam ada yang dari sumatera, papu dan jawa.
M : bagaimaa manajemen pengarsipannya mengingat begitu banyaknya specimen yang ada di herbarium ini ?
P : pengarsipan berdasarkan  genus, jadi setiap jajaran lemari merupakan genus yang sama.
M : apa saja jenis koleksi yang ada disini ?
P : koleksi disini ada dua jenis, yaitu herbarium kering seperti yang terlihat disini dan herbarium basah.
M : apa beda antara herbarium basah dengan herbarium kering ?
P : herbarium kering dapat dilakukan untuk daun-daunan. Namun, untuk buah dan bunga dapat dilakukan dengan herbarium basah.




V.                PENUTUP
Kesimpulan
     Herbarium merupakan suatu bukti autentik perjalanan dunia tumbuh-tumbuhan.
     Terdapat dua cara pengawetan tumbuhan dalam herbarium yaitu, herbarium kering dan herbarium basah.
     Salah satu fungsi herbarium adalah sebagai bahan penelitian dalam bidang botani.
     Pembuatan herbarium memiliki beberapa tahapan seperti: pengambilan sampel, proses pengeringan/ pengawetan, dan proses identifikasi/labeling.


DAFTAR  PUSTAKA

O. P.Sharma.1993. Plant Taxonomy. New Delhi tata:  McGraw-Hill Publishing Company Limited
Steenis, C.G.G.J.Van. 2003. Flora. Cet. 9. Jakarta: PT Pradnya Paramitha.
Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Umum Dasar-Dasar Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Triharso, 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Yogyakarta: UGM Press.
Van Steenis, C. G. G. J. 1972. Flora Untuk Sekolah Di Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Ardiawan, 2010. Diakses dari http://ardiawan-1990.blogspot.com/2010/10/ koleksi- membuat-herbarium.html. Pada Tanggal 13 Mei 2013. Pukul 15.00 WIB.
http://www.krcibodas.lipi.go.id. Diakses Pada tanggal 10 Juni 2013. Pukul 15.35 WIB.
Ir. A. Muh. Rafii, MP. 2011. Herbarium Sebagai Acuan Penanaman Pohon  (http://www.badikhut.com/3e734a2ef4ccb7706ab716d77fba7ac8-artikel-herbarium-sebagai-acuan-penanaman-pohon.html ) diakses pada 09 Juni 2013. Pukul 16.30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar