LAPORAN FIELD TRIP BIOLOGI
Keadaan Ekologi di sekitar PTP Nusantara VIII Kebun
Gunung Mas Jawa Barat
Disusun
oleh:
Dania Ramadani (1111016100004)
Kartika Dewi (1111016100011)
Mutia Ulfah (1111016100014)
Nilam Angraini (1111016100022)
Reinaldi Idsya (1111016100021)
Marlina Septiani (1111016100028)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI 2A
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kami, hingga kami dapat melaksanakan Field Trip ke PTP
Nusantara VIII Kebun Gunung Mas Jawa Barat dan dapat
menyelesaikan Laporan Field Trip dengan judul “Keadaan Ekologi di sekitar PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas Jawa Barat”. Laporan ini kami susun dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah BIOLOGI Dasar II.
Kami menyadari, bahwa laporan ini
tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan konstribusi
dan dukungan dalam melaksanakan Field Trip serta dalam menyelesaikan laporan
Field Trip ini. Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Sigit selaku dosen mata kuliah
Biologi Dasar II yang telah membimbing kami dalam materi pembelajaran Ekologi.
2.
Bapak
Sujiyo Miranto selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup (PKLH) yang telah membimbing kami dalam melaksanakan Field
Trip.
3.
Kepada
ayahanda dan ibunda kami tercinta yang telah mengizinkan kami untuk mengikuti
Field Trip.
4.
Ucapan
terima kasih, juga kami sampaikan kepada segenap mahasiswa Program Studi
Pendidikan Biologi 2A, yang telah bekerjasama dengan baik dalam melaksanakan
Field Trip ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan
menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami
selaku tim penyusun sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Kritik dan saran sangatlah kami harapkan
dan dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.
Ciputat, 5 Juni 2012
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teh
merupakan minuman yang sudah dikenal dengan luas di Indonesia dan di dunia.
Minuman berwarna coklat ini umum menjadi minuman penjamu tamu. Aromanya yang
harum serta rasanya yang khas membuat minuman ini banyak dikonsumsi. Selain
kelebihan tadi, teh juga memiliki banyak manfaat yang sangat berguna bagi
kesehatan tubuh. Manfaat teh antara lain adalah sebagai antioksidan,
memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh,
mencegah kanker, mencegah serangan jantung,, mengurangi kolestrol dalam darah,
melancarkan sirkulasi darah. Maka, tidak heran bila minuman ini disebut-sebut
sebagai minuman kaya manfaat.
Dalam kehidupan
sehari-hari kita tak lepas dari teh dan telah mengkonsumsi teh tersebut tetapi,
kita tidak mengetahui bagaimana proses produksi teh itu sebenarnya hingga dapat
dikonsumsi. Karena itu kami telah melakukan kunjungan ke salah satu pabrik teh
tersebut dalam rangka untuk mengetahui bagaimana proses pengolahan teh tersebut
sebagai salah satu bagian yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Pabrik teh Gunung
Mas menitik beratkan pada produksi teh hitam. Lewat data-data yang kami
kumpulkan melalui observasi lapangan, kami akan menjelaskan mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan teh yang ada di pabrik tersebut.
Pabrik teh Gunung Mas
berdiri pada tahun 1910. Pada waktu itu luas lahan masih sedikit namun sekarang
lahannya sudah semakin luas, selain itu produksinya pun semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Inilah keadaan perkebunan teh Gunung Mas sekarang.
1.2 Tujuan
Tujuan
diadakannya Field Trip ke Pabrik Teh Gunung Mas ini adalah:
1.
Mengetahui
tipe-tipe pucuk daun teh dari yang kualitas terbaik sampai yang terendah.
2.
Mengetahui
proses produksi teh dari mulai pemetikan pucuk sampai proses pengemasan.
3.
Mengetahui
perbedaan teh hitam dan teh hijau dari segi kualitasnya.
4.
Mengetahui
Manfaat teh bagi kesehatan
1.3 Perumusan
Masalah
1.
Apa saja tipe-tipe pucuk daun teh?
2.
Bagaimana proses produksi teh?
3.
Apa perbedaan teh hitam dan teh hijau?
4. Apa saja manfaat teh bagi kesehatan?
1.4 Metode
Penulisan
Melalui observasi
langsung ke pabrik teh Gunung Mas dan melalui diskusi dengan pegawai pabrik
yang mendampingi pada saat mengelilingi pabrik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tipe-tipe
Pucuk Daun Teh
Sebelum
proses produksi teh dilakukan, baik teh hitam maupun teh hijau, yang dilakukan
pertama kali adalah penyortiran pucuk teh berdasarkan tipe pucuk nya.
Seperti
yang terlihat diatas, pucuk teh dibagi menjadi delapaan bagian yaitu:
·
Pucuk
P+1: merupakan pucuk teh terbaik dengan pecco (pucuk teratas daun teh) yang
masih sangat menguncup. Biasanya pucuk ini diekspor keluar negeri.
·
Pucuk
P+2: merupakan pucuk teh yang kualitasnya mendekati terbaik tetapi tidak sebaik
kualitas dari pucuk P+1. Pucuk ini juga biasanya diekspor keluar negeri.
·
Pucuk
P+3: merupakan pucuk teh yang masuk kedalam kualitas ketiga,dan sama seperti
P+1 dan P+2 pucuknya juga diekspor keluar negeri.
·
Pucuk
P+4 dan Pucuk P+5 merupakan merupakan pucuk teh ke empat dan kelima.
Jenis-jenis pucuk teh ini semuanya juga diekspor keluar negeri.
·
Pucuk
burung muda, burung tua,daun kasar,daun tua dan pucuk rusak merupakan
pucuk-pucuk kualitas rendah dan biasanya digunakan untuk produksi produk teh
kemasan didalam negeri.
2.2 Proses Produksi Teh
1)
Pelayuan
Pucuk teh yang telah dipetik akan terjadi
perubahan–perubahan senyawa polisacharida dan protein. Ini mengakibatkan
perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam amino akan meningkat
demikian pula dengan asam - asam organik lainnya. Semua perubahan ini dalam
istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi pengaruh
terhadap mutu teh.
Perubahan– perubahan kimiawi ini akan terganggu
apabila pucuk terkena udara panas secara berlebihan atau pucuk mengalami
kerusakan mekanis. Agar pucuk dapat digiling dengan baik pada proses
penggilingan maka pucuk harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus
dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk.
Pelayuan fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan
waktu kurang dari 6 jam.
Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu
teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan rusak tidak akan menghasilkan mutu yang
baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di dalam pucuk segar harus
dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur dan lemas
untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.
Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan
kontak layuan ( Witehring trough ) atau dengan menggunakan rak–rak kayu yang ditumpuk.
Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa panas
yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah kamar
pelayuan.
2)
Pengggilingan
pucuk layu
Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam
adalah :
Ø
Mememarkan
dan menggiling seluruh bagian pucuk agar sebanyak mungkin sel–sel daun
mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.
Ø
Memperkecil
daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade– grade teh yang diharapkan
oleh pemasaran.
Ø
Memeras
cairan sel daun keluar sehingga menempel pada seluruh permukaan partikel–pertikel
teh
Mesin –
mesin dan peralatan yang digunakan terdiri dari :
Ø
Mesin
penggilingan Open Top Roller( OT ) yaitu sebuah selinder yang terbuka di bagian
atasnya dan bergerak memutar horizontal di atas sebuah meja yang dilengkapi
dengan jalur – jalur gigi dan kerucut tumpul pada titik pusatnya, alat
ini terbuat dari bahan metal yang tahan karat dimana kecepatan putarannya 42
rpm.
Ø
Mesin
penggiling press Cap Roller ( PC ) yang bentuknya sama dengan OT. Hanya saja
penekan atau press cap untuk memberikan tekanan pada teh yang sedang digiling.
Ø
Mesin giling
Rotervance ( RV ) yaitu sebuah silinder yang berukuran garis tengah inci ( 20
cm ) yang diletakan horizontal. Di dalam selinder ini terdapat as yang
dilengkapi dengan sirip – sirip spiral pengisi. Pada bagian ujung terdapat plat
pengatur tekanan berbentuk silang. As berputar dengan kecepatan 40 – 46 rpm
tergantung dari kebutuhan.
Ø
Mesin ayak
pemecah gumpalan teh atau Ballbreaker sifter ( BBS ). yang berputar horizontal
dengan rpm 140 dilengkapi dengan konveyor pengisi untuk mengatur kerataan
jumlah teh yang diayak.
Proses
penggilingan dapat juga dikatakan proses sortasi basah., karena pada tahap ini
hasil penggilingan akan berbentuk beberapa jenis bubuk teh : bubuk-1, bubuk-2,
bubuk-3, bubuk-4 dan yang paling kasar disebut badag. Bubuk-1 dihasilkan dari
pengayakan hasil pertama dari gilingan kedua dan demikian selanjutnya.
Urutan proses penggilingan di pabrik teh Malabar disusun sebagai berikut (salah satu dari program giling) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1). Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk – 2). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk –3 dan badag). Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan (Kirab) 2 x 5 menit.
Urutan proses penggilingan di pabrik teh Malabar disusun sebagai berikut (salah satu dari program giling) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1). Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk – 2). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk –3 dan badag). Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan (Kirab) 2 x 5 menit.
Berbagai
jenis program digunakan dalam praktek oleh pabrik–pabrik teh hitam di
Indonesia. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah bahwa proses penggilingan ini
disertai oleh proses fermentasi.
Proses
fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap
program giling harus di tunjang oleh kelengkapan mesin yang tepat dan cukup
jumlahnya dengan layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula
dengan potensi hasil kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang
mantap (konstan) dari hari ke hari, merupakan tujuan yang utama.
Didalam
tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh,
sehinnga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama. Hasil
penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan
persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang
kecil. Persentase bubuk 1 dan bubuk 2 harus sama dengan persentase bagian
muda atau halus dari analisa pucuknya, dan harus sama pula dengan persentase
mutu ke 1 hasil sortasi keringnya.
Waktu lama fermentasi dihitung ketika pucuk layu masuk
kedalam mesin giling petama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam
mesin pengering. Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan
mengalami waktu lama fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian
output gilingan dan input (kapasitas) mesin pengeringnya . Untuk itu setiap
bubuk hasil penggilingan harus ditimbang dan dicatat. Program giling diatas
ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan bubuk 2 masing–masing 30% dan 40%
(jumlah 78% - 80%).
Ruang
penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi
penguapan air dari teh yang sedang digiling, khususnya bubuk basah yang sedang
menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam
bentuk basah dapat menghambat prosses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar
dan cukup karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.
Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan harus cukup tersedia.
3)
Pengeringan
Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air di dalam teh sampai ±3%. Kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.
Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air di dalam teh sampai ±3%. Kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.
Mesin pengering konvensional yang hingga sekarang masih banyak digunakan industri teh hitam, adalah Endles Chain pressure Dryer (ECP). Mesin ini mengeringkan teh diatas rantai–rantai baki. Mesin dengan rantai–rantai baki 2 tingkat disebut “two stage ECP” yang bertingkat 3 disebut “three stage ECP” dan yang 4 disebut “four stage ECP”. Jenis ECP yang mutakhir yang banyak digunakan adalah jenis two stage.
Udara
panas dengan suhu + 98°C dihembuskan dari bawah melalui lapisan teh diatas
rantai terbawah kemudian keluar melalui lapisan teh diatas rantai baki paling
atas. Suhu udara yang keluar dari mesin pengering ada sekitar 49°C kurang lebih
20 menit diperlukan untuk mngeringkan teh bubuk hingga kadar airnya mencapai
3%.
Proses pengeringan bersama dengan proses penggilingan merupakan bagian dari pengolahan teh hitam yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
4)
Sortasi
keringan dan penyimpanan
Tujuan utama dari sortasi kering ini
adalah memisahkan ukuran–ukuran teh yang terjadi akibat proses penggilingan
menjadi kelompok–kelompok grade teh yang sesuai dengan permintaan pasaran teh
sekarang (Internasional). Karena teh kering sangat peka terhadap kelembaban
udara (sangat higroskopis) maka proses sortasi kering ini harus dilaksanakan
sesederhana dan secepat mungkin.
Grade – grade ( jenis- jenis ) teh
hitam yang dihasilkan sebagian besar oleh pabrik–pabrik di Indonesia sekarang
adalah :
1.
BOP = Broken Orange Pecco
2.
BOPF = Broken Orange Pecco Pannings
3.
PF = Pecco Panings
4.
Dust
5.
BP = Broken Pecco
6.
BT = Broken Tea
Persentase grade pertama ini umumnya dapat mencapai 70
% hingga 85 % dari semua teh yang dihasilkan tergantung dari mutu standar
petikan dan kondisi pucuknya. Besar kecilnya ukuran, sehingga sesuai dengan
permintaan standar ukuran pasaran teh hitam, tergantung dari standar petikan,
derajat layuan dan program gilingnya.
Mesin – mesin pengayak yang digunakan dalam sortasi kering, dibedakan satu dengan yang lainnya oleh jenis geraknya. Rotating sifter adalah mesin ayak yang gerakannya berputar horizontal. Sedangkan yang gerakannya maju mundur disebut mesin ayak Reciprocating dan yang naik turun disebut Vibrating Sifter disamping itu mesin pemisah tulang Electrostatic Stalk Separator. Winnower adalah mesin pemisah ukuran teh menurut berat jenis dengan menggunakan kipas penghisapangin. Mesin ayak yang gerakannya maju mundur digunakan untuk memisahkan ukuran–ukuran yang bentuknya memanjang dari ukuran–ukuran teh yang bentuknya bulat.
Segera setelah selesai proses sortasi kering ini,
semua teh ditimbang menurut jenis gradenya untuk kemudian dimasukan kedalam
peti penyimpanan (peti miring atau tea bin). Dapat dibedakan bahwa sejumlah
hasil timbangan grade-grade teh tersebut akan lebih besar dari pada berat teh
keringnya. Besar kecilnya persentase overweight ini tergantung dari kelembaban
udara ruang sortasi dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses sortasi.
Penyimpanan teh dalam peti miring akan memberikan
kesempatan bagi suatu proses pematangan mutu dan mengumpulkan teh menurut
jenisnya sehingga dapat di kemas dalam jumlah yang sama pada setiap kali
pengepakan.
Semua rangkaian kegiatan proses produksi dari mulai
pelayuan s/d sortasi masih menggunakan system ortodok (jaman dulu), namun
hasilnya tidak kalah dengan system yang modern.
2.3 Pengolahan Teh Hijau
Diantara
ketiga jenis teh – teh fermentasi (teh hitam), teh semi fermentasi (teh oolong
dan teh pouchong) serta teh tanpa fermentasi (teh hijau) – teh hijau boleh
dinobatkan sebagai teh dengan potensi aktivitas kesehatan yang paling baik.
Mengapa demikian? Katekin yang merupakan komponen bioaktif, selama pengolahan
teh hijau dipertahankan jumlahnya dengan cara menginaktivasi enzim polifenol
oksidasi baik melalui proses pelayuan maupun pemanasan. Pada proses pengolahan
lainnya, katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon, bisflavanol,
theaflavin dan thearubigin yang kemampuannya tidak sehebat katekin.
Pengolahan teh hijau
Indonesia menganut serangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau sedikit
mengalami proses oksimatis terhadap daun teh melalui sistem panning (bahasa
sunda: sangray). Tahapan pengolahannya terdiri atas pelayuan, penggulungan,
pengeringan, sortasi dan grading serta pengemasan.
1) Pelayuan
Berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim polyphenol oksidase untuk menghindari terjadinya proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur dan mudah digulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner dlam keadaan panas (80-100°C) selama 2-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun pada pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yang dinyatakan dalam persen. Persentase layu yang ideal untuk proses pengolahan teh hijau adalah 60-70%. Tingkat layu yang baik ditandai dengan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas dan lembut serta mengeluarkan bau yang khas.
Berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim polyphenol oksidase untuk menghindari terjadinya proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur dan mudah digulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner dlam keadaan panas (80-100°C) selama 2-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun pada pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yang dinyatakan dalam persen. Persentase layu yang ideal untuk proses pengolahan teh hijau adalah 60-70%. Tingkat layu yang baik ditandai dengan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas dan lembut serta mengeluarkan bau yang khas.
2) Penggulungan
Pada proses pengolahan teh hijau, penggulungan merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan untuk membentuk mutu secara fisik. Selama proses penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan seger setelah daun layu keluar dari mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26″ type single action selama 15-17 menit.
Pada proses pengolahan teh hijau, penggulungan merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan untuk membentuk mutu secara fisik. Selama proses penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan seger setelah daun layu keluar dari mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26″ type single action selama 15-17 menit.
3) Pengeringan
Pengeringan
bertujuan untuk mereduksi kandungan air dalam daun hingga 3-4%. Untuk mencapai
kadar air yang demikian rendahnya, pengeringan umumnya dilakukan dalam dua
tahap. Pengeringan pertama bertujuan mereduksi kandungan air dan memekatkan
cairan sel yang menempel pada permukaan daun. Hasil pengeringan pertama masih
setengah kering dengan tingkat kekeringan (kering dibagi basah) sekira 30-35%.
Mesin yang digunakan pada proses pengeringan pertama ini adalah ECP dengan suhu
masuk 130-135°C dan suhu keluar 50-55°C dengan lama pengeringan sekira 25
menit. Disamping memperbaiki bentuk gulungan, pengeringan kedua bertujuan untuk
mengeringan teh sampai kadar airnya menyentuh angka 3-4%. Mesin yang digunakan dalam
proses ini biasanya berupa Rotary Dryer type repeat roll. Lama pengeringan
berkisar antara 80-90 menit pada suhu dibawah 70°C.
4) Sortasi dan
Grading
Seperti halnya pada proses pengolahan teh hitam, proses ini bertujuan untuk memisahkan, memurnikan dan membentuk jenis mutu agar teh dapat diterima baik dipasaran lokal maupun ekspor.
Seperti halnya pada proses pengolahan teh hitam, proses ini bertujuan untuk memisahkan, memurnikan dan membentuk jenis mutu agar teh dapat diterima baik dipasaran lokal maupun ekspor.
2.4 Perbedaan Teh Hitam dan
Teh Hijau
Teh
hitam dan teh hijau awalnya berasal dari tanaman yang sama dengan nama latin Camellia sinensis. Perbedaan dari
keduanya terletak pada proses pembuatannya. Teh
hitam didapatkan melalui pengolahan sebagai berikut. Pertama, pucuk teh yang
telah dipetik diangin-anginkan (dilayukan) satu setengah hari. Setelah itu
pucuk digiling sampai menjadi serpih. Serpih hasil gilingan pucuk teh ini selanjutnya
dioksidasi. Caranya, hasil gilingan tersebut ditaruh dalam rak selama selama
satu jam hingga klorofilnya (butir hijau daunnya) pecah dan terkena oksigen.
Ditandai dengan warnanya yang menjadi cokelat kemerah-merahan. Orang sering
salah menyebut proses oksidasi ini sebagai fermentasi. Padahal ada perbedaan
antara oksidasi dan fermentasi. Pada proses oksidasi, produk hanya dibiarkan
bersentuhan dengan oksigen dari udara bebas. Sementara proses fermentasi
memerlukan bantuan bakteri atau kapang dalam penguraian produk tersebut. Setelah terjadi proses oksidasi,
gilingan pucuk teh tadi ditiup udara panas sampai kering lalu diayak untuk
keperluan sortasi dan menghilangkan debunya. Hasilnya berupa teh hitam yang
terpisah-pisah menjadi beberapa kualitas. Rasa teh hitam memiliki rasa pahit yang
tinggi karena disebabkan oleh adanya zat tanin yang keluar dari klorofil daun
teh yang telah pecah.
Sedangkan pada pengolahan teh hijau, pucuk
teh setelah dipetik dan dilayukan tidak digiling melainkan digulung. Caranya
pucuk daun dimasukkan ke dalam mesin penggulung hingga pucuk daun tergulung.
Selanjutnya gulungan pucuk daun teh itu langsung dikeringkan dengan hembusan
udara panas sampai kering. Karena tidak melalui proses penggilingan dan
oksidasi, klorofil daun teh hijau tidak pecah. Akibatnya, seduhan teh hijau
akan berwarna hijau muda kekuningan dan jernih. Membuat rasa teh hijau lebih ringan dan beraroma rumput.
2.5 Manfaat
Teh Hitam dan Teh Hijau
Manfaat
Teh Hitam
1. Teh hitam memiliki kandungan kafein
sangat rendah sehingga bagus untuk sirkulasi darah.
2.
Fluorida
yang terkandung dalam teh hitam membantu kesehatan mulut dan tulang tetap terjaga.
3.
Kandungan
flavonoid dalam teh hitam yang ditemukan seperti yng terdapat dalam apel mamp menghilangkan
semua antioksidan yang ada di dalamnya.
4.
Teh
hitam tidak hanya membantu melawan bakteri tetapi juga memerkuat kekebalan
tubuh.
5.
Mengonsumsi
teh hitam dapat mengurangi risiko stroke karena menyeimbangkan tingkat kolestrol
di dalam tubuh.
Manfaat
Teh Hijau
1.
Teh
Hijau mengandungan senyawa polifenol yang sangat banyak, berperan sebagai
pelindung terhadap kanker. Polifenol tergolong dalam antioksidan yang sangat
ampuh. Senyawa ini akan menetralkan radikal bebas yang menjadi penyebab kanker tersebut.
2.
Teh
hijau juga mengandung vitamin C dan vitamin E yang bermanfaat untuk memperkuat
daya tahan tubuh, kesehatan kulit, dan kesehatan rambut.
3.
Menjaga
kadar kolestrol dalam tubuh agar tetap baik, mencegah kanker dan tekanan darah
tinggi. Menurunkan risiko stroke dan berbagai penyakit hati (lever), menjaga
stamina dan menghilangkan keletihan, sebagai anti radang tenggorokan, serta
mencegah gigi berlubang,
4.
Kandungan
bioflavonoid dalam teh hijau juga dapat memperkuat sistem pencernaan.
5.
Teh
hijau juga diketahui memiliki kandungan senyawa epigallocatechin gallate
yang diketahui dapat menghambat perkembangan senyawa karsinogenik, sehingga
dapat mencegah pembentukan kanker.
Secara
umum kandungan senyawa-senyawa dalam teh memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti:
- KATEKIN
·
Menurunkan kadar kolesterol
·
Menurunkan tekanan darah dan kadar
gula dalam darah
·
Anti kanker, factor anti mutant
·
Membantu kerja ginjal mencegah
terjadinya batu empedu
- POLIFENOL/TANIN
·
Memperlancar pencernaan, membunuh
bakteri disentri
·
Memiliki fungsi anti oksidan
·
Melarutkan lemak
- KAFEIN (Theophyiline Theobromine)
·
Menstimulasi pusat syaraf
·
Memperlancar sirkulasi darah,
membantu fungsi ginjal
·
Meningkatkan konsentrasi
- MINYAK ESENSI
·
Memperlancar pencernaan dan
melarutkan lemak
·
Sumber aroma teh
- FLAVANOLS
·
Menguatkan pembuluh darah, memiliki
fungsi antioksidan
- FLUORIDE (Menganese, Zinc, Potassium)
·
Mencegah kerusakan gigi
- VITAMIN C
·
Mencegah dan melawan influenza
·
Mengurangi stress
·
Menurunkan tekanan darah tinggi
·
Memiliki fungsi anti oksidan
·
Melindungi kornea mata dan sinar UV
(mencegah katarak)
- VITAMIN E
·
Mencegah penuaan dini
·
Mengurangi resiko penyakit jantung
dan stroke
·
Mencegah pembentukan lemak di
pembuluh darah
- VITAMIN B Kompleks
·
Membantu metabolism karbohidart
- MONOCITRATE
·
Mencegah bau mulut (nafas tidak
segar)
- CHLOROPIL
·
Mengharumkan mulut
BAB III
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
·
Teh merupakan salah satu minuman
yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
·
Teh mempunyai berbagai macam hasil
produksi di antaranya adlah teh hitam dan teh hijau.
·
Perbedaan teh hitam dan teh hijau
terletak pada proses pembuatannya. Teh hitap melalui tahap oksidasi sedangkan
teh hijau tidak.
·
Teh hitam dan teh hijau sama-sama
memiliki manfaat bagi kesehatan.
4.2
Saran
Kegiatan Field Trip ini sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Maka dari
itu, kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dapat pula diterapkan di
semua mata kuliah khususnya dalam mata kuliah yang memerlukan observasi
langsung ke lapangan. Sehingga Mahasiswa dapat memahami dan menerapkan pemahamannya
dalam masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar