Jumat, 13 September 2013

Laporan PKLH



LAPORAN FIELD TRIP BIOLOGI
Keadaan Ekologi di sekitar PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas Jawa Barat


 




Disusun oleh:
Dania Ramadani (1111016100004)
Kartika Dewi (1111016100011)
Mutia Ulfah (1111016100014)
Nilam Angraini (1111016100022)
Reinaldi Idsya (1111016100021)
Marlina Septiani (1111016100028)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI 2A
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kami, hingga kami dapat melaksanakan Field Trip ke PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas Jawa Barat dan dapat menyelesaikan Laporan Field Trip dengan judul “Keadaan Ekologi di sekitar PTP Nusantara VIII Kebun Gunung Mas Jawa Barat”. Laporan ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah BIOLOGI Dasar II.
            Kami menyadari, bahwa laporan ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan konstribusi dan dukungan dalam melaksanakan Field Trip serta dalam menyelesaikan laporan Field Trip ini. Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih kepada:
1.      Bapak Sigit selaku dosen mata kuliah Biologi Dasar II yang telah membimbing kami dalam materi pembelajaran Ekologi.
2.      Bapak Sujiyo Miranto selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) yang telah membimbing kami dalam melaksanakan Field Trip.
3.      Kepada ayahanda dan ibunda kami tercinta yang telah mengizinkan kami untuk mengikuti Field Trip.
4.      Ucapan terima kasih, juga kami sampaikan kepada segenap mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi 2A, yang telah bekerjasama dengan baik dalam melaksanakan Field Trip ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami selaku tim penyusun sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Kritik dan saran sangatlah kami harapkan dan dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.

   Ciputat, 5 Juni 2012

Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Teh merupakan minuman yang sudah dikenal dengan luas di Indonesia dan di dunia. Minuman berwarna coklat ini umum menjadi minuman penjamu tamu. Aromanya yang harum serta rasanya yang khas membuat minuman ini banyak dikonsumsi. Selain kelebihan tadi, teh juga memiliki banyak manfaat yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Manfaat teh antara lain adalah sebagai antioksidan, memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh, mencegah kanker, mencegah serangan jantung,, mengurangi kolestrol dalam darah, melancarkan sirkulasi darah. Maka, tidak heran bila minuman ini disebut-sebut sebagai minuman kaya manfaat.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tak lepas dari teh dan telah mengkonsumsi teh tersebut tetapi, kita tidak mengetahui bagaimana proses produksi teh itu sebenarnya hingga dapat dikonsumsi. Karena itu kami telah melakukan kunjungan ke salah satu pabrik teh tersebut dalam rangka untuk mengetahui bagaimana proses pengolahan teh tersebut sebagai salah satu bagian yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

 Pabrik teh Gunung Mas menitik beratkan pada produksi teh hitam. Lewat data-data yang kami kumpulkan melalui observasi lapangan, kami akan menjelaskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan teh yang ada di pabrik tersebut.

Pabrik teh Gunung Mas berdiri pada tahun 1910. Pada waktu itu luas lahan masih sedikit namun sekarang lahannya sudah semakin luas, selain itu produksinya pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Inilah keadaan perkebunan teh Gunung Mas sekarang.







1.2       Tujuan
            Tujuan diadakannya Field Trip ke Pabrik Teh Gunung Mas ini adalah:
1.    Mengetahui tipe-tipe pucuk daun teh dari yang kualitas terbaik sampai yang terendah.
2.    Mengetahui proses produksi teh dari mulai pemetikan pucuk sampai proses pengemasan.
3.    Mengetahui perbedaan teh hitam dan teh hijau dari segi kualitasnya.
4.    Mengetahui Manfaat teh bagi kesehatan
1.3       Perumusan Masalah
            1.  Apa saja tipe-tipe pucuk daun teh?
            2.  Bagaimana proses produksi teh?
            3.  Apa perbedaan teh hitam dan teh hijau?
4.  Apa saja manfaat teh bagi kesehatan?

1.4       Metode Penulisan
Melalui observasi langsung ke pabrik teh Gunung Mas dan melalui diskusi dengan pegawai pabrik yang mendampingi pada saat mengelilingi pabrik.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1       Tipe-tipe Pucuk Daun Teh
Description: IMG_2088.JPGSebelum proses produksi teh dilakukan, baik teh hitam maupun teh hijau, yang dilakukan pertama kali adalah penyortiran pucuk teh berdasarkan tipe pucuk nya.









Seperti yang terlihat diatas, pucuk teh dibagi menjadi delapaan bagian yaitu:
·         Pucuk P+1: merupakan pucuk teh terbaik dengan pecco (pucuk teratas daun teh) yang masih sangat menguncup. Biasanya pucuk ini diekspor keluar negeri.
·         Pucuk P+2: merupakan pucuk teh yang kualitasnya mendekati terbaik tetapi tidak sebaik kualitas dari pucuk P+1. Pucuk ini juga biasanya diekspor keluar negeri.
·         Pucuk P+3: merupakan pucuk teh yang masuk kedalam kualitas ketiga,dan sama seperti P+1 dan P+2 pucuknya juga diekspor keluar negeri.
·         Pucuk P+4 dan Pucuk P+5 merupakan merupakan pucuk teh ke empat dan kelima. Jenis-jenis pucuk teh ini semuanya juga diekspor keluar negeri.
·         Pucuk burung muda, burung tua,daun kasar,daun tua dan pucuk rusak merupakan pucuk-pucuk kualitas rendah dan biasanya digunakan untuk produksi produk teh kemasan didalam negeri.

2.2       Proses Produksi Teh
1)      Pelayuan
Pucuk teh yang telah dipetik akan terjadi perubahan–perubahan senyawa polisacharida dan protein. Ini mengakibatkan perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam amino akan meningkat demikian pula dengan asam - asam organik lainnya. Semua perubahan ini dalam istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi pengaruh terhadap mutu teh.
Perubahan– perubahan kimiawi ini akan terganggu apabila pucuk terkena udara panas secara berlebihan atau pucuk mengalami kerusakan mekanis. Agar pucuk dapat digiling dengan baik pada proses penggilingan maka pucuk harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk. Pelayuan fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan waktu kurang dari 6 jam.
Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan rusak tidak akan menghasilkan mutu yang baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di dalam pucuk segar harus dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.
Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan kontak layuan ( Witehring trough ) atau dengan menggunakan rak–rak kayu yang ditumpuk. Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa panas yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah kamar pelayuan.
2)      Pengggilingan pucuk layu
Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam adalah :
Ø  Mememarkan dan menggiling seluruh bagian pucuk agar sebanyak mungkin sel–sel daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.
Ø  Memperkecil daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade– grade teh yang diharapkan oleh pemasaran.
Ø  Memeras cairan sel daun keluar sehingga menempel pada seluruh permukaan partikel–pertikel teh
Mesin – mesin dan peralatan yang digunakan terdiri dari :
Ø  Mesin penggilingan Open Top Roller( OT ) yaitu sebuah selinder yang terbuka di bagian atasnya dan bergerak memutar horizontal di atas sebuah meja yang dilengkapi dengan jalur – jalur gigi dan kerucut tumpul  pada titik pusatnya, alat ini terbuat dari bahan metal yang tahan karat dimana kecepatan putarannya 42 rpm.
Ø  Mesin penggiling press Cap Roller ( PC ) yang bentuknya sama dengan OT. Hanya saja penekan atau press cap untuk memberikan tekanan pada teh yang sedang digiling.
Ø  Mesin giling Rotervance ( RV ) yaitu sebuah silinder yang berukuran garis tengah inci ( 20 cm ) yang diletakan horizontal. Di dalam selinder ini terdapat as yang dilengkapi dengan sirip – sirip spiral pengisi. Pada bagian ujung terdapat plat pengatur tekanan berbentuk silang. As berputar dengan kecepatan 40 – 46 rpm tergantung dari kebutuhan.
Ø  Mesin ayak pemecah gumpalan teh atau Ballbreaker sifter ( BBS ). yang berputar horizontal dengan rpm 140 dilengkapi dengan konveyor pengisi untuk mengatur kerataan jumlah teh yang diayak.
Proses penggilingan dapat juga dikatakan proses sortasi basah., karena pada tahap ini hasil penggilingan akan berbentuk beberapa jenis bubuk teh : bubuk-1, bubuk-2, bubuk-3, bubuk-4 dan yang paling kasar disebut badag. Bubuk-1 dihasilkan dari pengayakan hasil pertama dari gilingan kedua dan demikian selanjutnya.

Urutan proses penggilingan di pabrik teh Malabar disusun sebagai berikut (salah satu dari program giling) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1). Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk – 2). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC (bubuk –3 dan badag). Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan (Kirab) 2 x 5 menit.
       Berbagai jenis program digunakan dalam praktek oleh pabrik–pabrik teh hitam di Indonesia. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah bahwa proses penggilingan ini disertai oleh proses fermentasi.
Proses fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap program giling harus di tunjang oleh kelengkapan mesin yang tepat dan cukup jumlahnya dengan layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula dengan potensi hasil kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang mantap (konstan) dari hari ke hari, merupakan tujuan yang utama.
Didalam tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh, sehinnga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama. Hasil penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang kecil. Persentase bubuk 1 dan bubuk 2  harus sama dengan persentase bagian muda atau halus dari analisa pucuknya, dan harus sama pula dengan persentase mutu ke 1 hasil sortasi keringnya.
Waktu lama fermentasi dihitung ketika pucuk layu masuk kedalam mesin giling petama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam mesin pengering. Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan mengalami waktu lama fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian output gilingan dan input (kapasitas) mesin pengeringnya . Untuk itu setiap bubuk hasil penggilingan harus ditimbang dan dicatat. Program giling diatas ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan bubuk 2 masing–masing 30% dan 40% (jumlah 78% - 80%).
Ruang penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan air dari teh yang sedang digiling, khususnya bubuk basah yang sedang menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam bentuk basah dapat menghambat prosses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar dan cukup karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.

Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan harus cukup tersedia.
3)      Pengeringan
Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air di dalam teh sampai ±3%. Kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.

Mesin pengering konvensional yang hingga sekarang masih banyak digunakan industri teh hitam, adalah Endles Chain pressure Dryer (ECP). Mesin ini mengeringkan teh diatas rantai–rantai baki. Mesin dengan rantai–rantai baki 2 tingkat disebut “two stage ECP” yang bertingkat 3 disebut “three stage ECP” dan yang 4 disebut “four stage ECP”. Jenis ECP yang mutakhir yang banyak digunakan adalah jenis two stage.

Udara panas dengan suhu + 98°C dihembuskan dari bawah melalui lapisan teh diatas rantai terbawah kemudian keluar melalui lapisan teh diatas rantai baki paling atas. Suhu udara yang keluar dari mesin pengering ada sekitar 49°C kurang lebih 20 menit diperlukan untuk mngeringkan teh bubuk hingga kadar airnya mencapai 3%.

Proses pengeringan bersama dengan proses penggilingan merupakan bagian dari pengolahan teh hitam yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.

4)      Sortasi keringan dan penyimpanan
Tujuan utama dari sortasi kering ini adalah memisahkan ukuran–ukuran teh yang terjadi akibat proses penggilingan menjadi kelompok–kelompok grade teh yang sesuai dengan permintaan pasaran teh sekarang (Internasional). Karena teh kering sangat peka terhadap kelembaban udara (sangat higroskopis) maka proses sortasi kering ini harus dilaksanakan sesederhana dan secepat mungkin.
Grade – grade ( jenis- jenis ) teh hitam yang dihasilkan sebagian besar oleh pabrik–pabrik di Indonesia sekarang adalah :
            1. BOP = Broken Orange Pecco
            2. BOPF = Broken Orange Pecco Pannings
            3. PF = Pecco Panings
            4. Dust
            5. BP = Broken Pecco
            6. BT = Broken Tea
Persentase grade pertama ini umumnya dapat mencapai 70 % hingga 85 % dari semua teh yang dihasilkan tergantung dari mutu standar petikan dan kondisi pucuknya. Besar kecilnya ukuran, sehingga sesuai dengan permintaan standar ukuran pasaran teh hitam, tergantung dari standar petikan, derajat layuan dan program gilingnya.

Mesin – mesin pengayak yang digunakan dalam sortasi kering, dibedakan satu dengan yang lainnya oleh jenis geraknya. Rotating sifter adalah mesin ayak yang gerakannya berputar horizontal. Sedangkan yang gerakannya maju mundur disebut mesin ayak Reciprocating dan yang naik turun disebut Vibrating Sifter disamping itu mesin pemisah tulang Electrostatic Stalk Separator. Winnower adalah mesin pemisah ukuran teh menurut berat jenis dengan menggunakan kipas penghisapangin. Mesin ayak yang gerakannya maju mundur digunakan untuk memisahkan ukuran–ukuran yang bentuknya memanjang dari ukuran–ukuran teh yang bentuknya bulat.
Segera setelah selesai proses sortasi kering ini, semua teh ditimbang menurut jenis gradenya untuk kemudian dimasukan kedalam peti penyimpanan (peti miring atau tea bin). Dapat dibedakan bahwa sejumlah hasil timbangan grade-grade teh tersebut akan lebih besar dari pada berat teh keringnya. Besar kecilnya persentase overweight ini tergantung dari kelembaban udara ruang sortasi dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses sortasi.
Penyimpanan teh dalam peti miring akan memberikan kesempatan bagi suatu proses pematangan mutu dan mengumpulkan teh menurut jenisnya sehingga dapat di kemas dalam jumlah yang sama pada setiap kali pengepakan.
Semua rangkaian kegiatan proses produksi dari mulai pelayuan s/d sortasi masih menggunakan system ortodok (jaman dulu), namun hasilnya tidak kalah dengan system yang modern.
2.3          Pengolahan Teh  Hijau
Diantara ketiga jenis teh – teh fermentasi (teh hitam), teh semi fermentasi (teh oolong dan teh pouchong) serta teh tanpa fermentasi (teh hijau) – teh hijau boleh dinobatkan sebagai teh dengan potensi aktivitas kesehatan yang paling baik. Mengapa demikian? Katekin yang merupakan komponen bioaktif, selama pengolahan teh hijau dipertahankan jumlahnya dengan cara menginaktivasi enzim polifenol oksidasi baik melalui proses pelayuan maupun pemanasan. Pada proses pengolahan lainnya, katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon, bisflavanol, theaflavin dan thearubigin yang kemampuannya tidak sehebat katekin.
Pengolahan teh hijau Indonesia menganut serangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau sedikit mengalami proses oksimatis terhadap daun teh melalui sistem panning (bahasa sunda: sangray). Tahapan pengolahannya terdiri atas pelayuan, penggulungan, pengeringan, sortasi dan grading serta pengemasan.
1)      Pelayuan
Berbeda dengan proses pengolahan teh hitam, pelayuan disini bertujuan menginaktifasi enzim polyphenol oksidase untuk menghindari terjadinya proses oksimatis. Akibat proses ini daun menjadi lentur dan mudah digulung. Pelayuan dilakukan dengan cara mengalirkan sejumlah daun teh kedalam mesin pelayuan Rotary Panner dlam keadaan panas (80-100°C) selama 2-4 menit secara kontinyu. Penilaian tingkat layu daun pada pengolahan teh hijau dinyatakan sebagai persentase layu, yaitu perbandingan daun pucuk layu terhadap daun basah yang dinyatakan dalam persen. Persentase layu yang ideal untuk proses pengolahan teh hijau adalah 60-70%. Tingkat layu yang baik ditandai dengan daun layu yang berwarna hijau cerah, lemas dan lembut serta mengeluarkan bau yang khas.
2)      Penggulungan
Pada proses pengolahan teh hijau, penggulungan merupakan tahapan pengolahan yang bertujuan untuk membentuk mutu secara fisik. Selama proses penggulungan daun teh akan dibentuk menjadi gulungan kecil dan terjadi pemotongan. Proses ini dilakukan seger setelah daun layu keluar dari mesin pelayuan. Mesin penggulung yang biasa digunakan adalah Open Top Roller 26″ type single action selama 15-17 menit.
3)      Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mereduksi kandungan air dalam daun hingga 3-4%. Untuk mencapai kadar air yang demikian rendahnya, pengeringan umumnya dilakukan dalam dua tahap. Pengeringan pertama bertujuan mereduksi kandungan air dan memekatkan cairan sel yang menempel pada permukaan daun. Hasil pengeringan pertama masih setengah kering dengan tingkat kekeringan (kering dibagi basah) sekira 30-35%. Mesin yang digunakan pada proses pengeringan pertama ini adalah ECP dengan suhu masuk 130-135°C dan suhu keluar 50-55°C dengan lama pengeringan sekira 25 menit. Disamping memperbaiki bentuk gulungan, pengeringan kedua bertujuan untuk mengeringan teh sampai kadar airnya menyentuh angka 3-4%. Mesin yang digunakan dalam proses ini biasanya berupa Rotary Dryer type repeat roll. Lama pengeringan berkisar antara 80-90 menit pada suhu dibawah 70°C.
4)      Sortasi dan Grading
Seperti halnya pada proses pengolahan teh hitam, proses ini bertujuan untuk memisahkan, memurnikan dan membentuk jenis mutu agar teh dapat diterima baik dipasaran lokal maupun ekspor.
2.4       Perbedaan Teh Hitam dan Teh Hijau
            Teh hitam dan teh hijau awalnya berasal dari tanaman yang sama dengan nama latin Camellia sinensis. Perbedaan dari keduanya terletak pada proses pembuatannya. Teh hitam didapatkan melalui pengolahan sebagai berikut. Pertama, pucuk teh yang telah dipetik diangin-anginkan (dilayukan) satu setengah hari. Setelah itu pucuk digiling sampai menjadi serpih. Serpih hasil gilingan pucuk teh ini selanjutnya dioksidasi. Caranya, hasil gilingan tersebut ditaruh dalam rak selama selama satu jam hingga klorofilnya (butir hijau daunnya) pecah dan terkena oksigen. Ditandai dengan warnanya yang menjadi cokelat kemerah-merahan. Orang sering salah menyebut proses oksidasi ini sebagai fermentasi. Padahal ada perbedaan antara oksidasi dan fermentasi. Pada proses oksidasi, produk hanya dibiarkan bersentuhan dengan oksigen dari udara bebas. Sementara proses fermentasi memerlukan bantuan bakteri atau kapang dalam penguraian produk tersebut. Setelah terjadi proses oksidasi, gilingan pucuk teh tadi ditiup udara panas sampai kering lalu diayak untuk keperluan sortasi dan menghilangkan debunya. Hasilnya berupa teh hitam yang terpisah-pisah menjadi beberapa kualitas. Rasa teh hitam memiliki rasa pahit yang tinggi karena disebabkan oleh adanya zat tanin yang keluar dari klorofil daun teh yang telah pecah.
            Sedangkan pada pengolahan teh hijau, pucuk teh setelah dipetik dan dilayukan tidak digiling melainkan digulung. Caranya pucuk daun dimasukkan ke dalam mesin penggulung hingga pucuk daun tergulung. Selanjutnya gulungan pucuk daun teh itu langsung dikeringkan dengan hembusan udara panas sampai kering. Karena tidak melalui proses penggilingan dan oksidasi, klorofil daun teh hijau tidak pecah. Akibatnya, seduhan teh hijau akan berwarna hijau muda kekuningan dan jernih. Membuat rasa teh hijau lebih ringan dan beraroma rumput.
2.5       Manfaat Teh Hitam dan Teh Hijau
            Manfaat Teh Hitam
1.       Teh hitam memiliki kandungan kafein sangat rendah sehingga bagus untuk sirkulasi darah.
2.      Fluorida yang terkandung dalam teh hitam membantu kesehatan mulut dan tulang tetap  terjaga.
3.      Kandungan flavonoid dalam teh hitam yang ditemukan seperti yng terdapat dalam apel mamp menghilangkan semua antioksidan yang ada di dalamnya.
4.      Teh hitam tidak hanya membantu melawan bakteri tetapi juga memerkuat kekebalan tubuh.
5.      Mengonsumsi teh hitam dapat mengurangi risiko stroke karena menyeimbangkan tingkat kolestrol di dalam tubuh.

Manfaat Teh Hijau
1.      Teh Hijau mengandungan senyawa polifenol yang sangat banyak, berperan sebagai pelindung terhadap kanker. Polifenol tergolong dalam antioksidan yang sangat ampuh. Senyawa ini akan menetralkan radikal bebas yang menjadi penyebab kanker tersebut.
2.      Teh hijau juga mengandung vitamin C dan vitamin E yang bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh, kesehatan kulit, dan kesehatan rambut.
3.      Menjaga kadar kolestrol dalam tubuh agar tetap baik, mencegah kanker dan tekanan darah tinggi. Menurunkan risiko stroke dan berbagai penyakit hati (lever), menjaga stamina dan menghilangkan keletihan, sebagai anti radang tenggorokan, serta mencegah gigi berlubang,
4.      Kandungan bioflavonoid dalam teh hijau juga dapat memperkuat sistem pencernaan.
5.      Teh hijau juga diketahui memiliki kandungan senyawa epigallocatechin gallate yang diketahui dapat menghambat perkembangan senyawa karsinogenik, sehingga dapat mencegah pembentukan kanker.
Secara umum kandungan senyawa-senyawa dalam teh memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti:
  1.  KATEKIN
·  Menurunkan kadar kolesterol
·  Menurunkan tekanan darah dan kadar gula dalam darah
·  Anti kanker, factor anti mutant
·  Membantu kerja ginjal mencegah terjadinya batu empedu
  1. POLIFENOL/TANIN
·  Memperlancar pencernaan, membunuh bakteri disentri
·  Memiliki fungsi anti oksidan
·  Melarutkan lemak
  1. KAFEIN (Theophyiline Theobromine)
·  Menstimulasi pusat syaraf
·  Memperlancar sirkulasi darah, membantu fungsi ginjal
·  Meningkatkan konsentrasi
  1. MINYAK ESENSI
·  Memperlancar pencernaan dan melarutkan lemak
·  Sumber aroma teh
  1. FLAVANOLS
·  Menguatkan pembuluh darah, memiliki fungsi antioksidan
  1. FLUORIDE (Menganese, Zinc, Potassium)
·  Mencegah kerusakan gigi
  1. VITAMIN C
·  Mencegah dan melawan influenza
·  Mengurangi stress
·  Menurunkan tekanan darah tinggi
·  Memiliki fungsi anti oksidan
·  Melindungi kornea mata dan sinar UV (mencegah katarak)
  1. VITAMIN E
·  Mencegah penuaan dini
·  Mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke
·  Mencegah pembentukan lemak di pembuluh darah
  1. VITAMIN B Kompleks
·  Membantu metabolism karbohidart
  1. MONOCITRATE
·  Mencegah bau mulut (nafas tidak segar)
  1. CHLOROPIL
·  Mengharumkan mulut


BAB III
PENUTUP

4.1                   Kesimpulan
·         Teh merupakan salah satu minuman yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
·         Teh mempunyai berbagai macam hasil produksi di antaranya adlah teh hitam dan teh hijau.
·         Perbedaan teh hitam dan teh hijau terletak pada proses pembuatannya. Teh hitap melalui tahap oksidasi sedangkan teh hijau tidak.
·         Teh hitam dan teh hijau sama-sama memiliki manfaat bagi kesehatan.

4.2                   Saran
Kegiatan Field Trip ini sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Maka dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dapat pula diterapkan di semua mata kuliah khususnya dalam mata kuliah yang memerlukan observasi langsung ke lapangan. Sehingga Mahasiswa dapat memahami dan menerapkan pemahamannya dalam masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar